Adakah Inhiraf Manhaji Pada Fikrah Nahdliyyah?

Oleh Muhammad Fauzan Nurullah al-Julaniy

 Syabab.Com – Di bulan harlah Nahdhatul Ulama ini banyak harapan dari umat kepada para ‘ulama terutama yang tergabung dalam wadah Nahdhatul Ulama. NU sebagai ormas Islam yang lahir sebagai wujud kebangkitan ulama ini  benar-benar dapat membangkitkan umat dan Islam ini. [catatan redaksi]

Muqaddimah

 

Menarik mencermati Sabili No. 11 Th. XV 13 Desember 2007 dengan telaah utama Selisih Jalan NU-HTI Siapa Diuntungkan. Muncul pertanyaan, apakah klaim “selisih jalan” itu didasarkan pada cara pandang (pemikiran) yang berbeda, masalah komunikasi, atau terletak pada persoalan politik. Mambahas persoalan pertama tadi (masalah pemikiran) menjadi penting agar “selisih jalan” antara Nahdhiyin (sebutan untuk aktifis NU) dan Hizbiyin (sebutan untuk anggota HT) tidak terjadi di lapangan. Hampir melengkapi pertanyaan di atas, ada satu pertanyaan yang disampaikan seorang kolega kepada penulis, dan pertanyaan tersebut cukup untuk membuat kening penulis berkerut. Pertanyaan itu lebih kurang; “apakah antum seorang Nahdhiyin?” Dari pertanyaan itulah, penulis tertarik untuk menjawabnya dalam bentuk tulisan agar persoalan dan jawabannya menjadi jelas. Untuk menjawabnya, paling tidak ada satu persoalan yang harus dijawab terlebih dahulu; apakah yang disebut orang Nahdatul Ulama’ (NU) itu adalah dalam konteks genetik atau secara pemikiran (sebagaimana pemikiran yang membangun NU)? Ini menjadi penting untuk dijawab. Secara genetik, penulis adalah adalah keturunan NU, walaupun belum pernah mendeklarasikan sebagai kelompok Nahdhiyin. Ada juga orang yang secara genetik keturunan NU tapi secara metodologis menyimpang dari kerangka berpikir Nahdhiyah. Bahkan, ada yang secara pemikiran sama dengan kerangka berpikir Nahdhiyah, namun pada saat yang sama dimusuhi oleh sebagian kalangan yang mengaku dirinya orang NU. Jadi siapa sebetulnya yang Nahdhiyin dan siapa yang bukan? Jangan-jangan telah terjadi inhiraf manhaji (penyimpangan metodologis) dalam fikrah Nahdhiyah? Penyimpangan metodologis inilah yang dikhawatirkan penulis; semuanya demi menjaga keorisinilan pemikiran Nahdhiyah agar tidak menjadi kendaraan politik pihak tertentu yang hipokrit. Continue reading

Aliran Sesat

Di penghujung Tahun 2007,Indonesia kembali terhenyak dengan munculnya berbagai aliran sesat yang menyalahi akidah ummat Islam.Dan anehnya munculnya bak jamur di musim penghujan,tiba-tiba banyak dengn pengikut yang tidak sedikit juga.Al Qaida sudah diperadilkan dengan tokohnya Musaddeq mantan NII (katanya sih).lalu Ahmadiyah menggeliat lagi dengan membuat resah dikalangan ummat islam di Indonesia sehingga terjadi peristiwa di kuningan dimana massa mengepung tempat tinggal petinggi ahmadiyah dan menyegel masjidnya.

Ahmadiyah,aliran yang sengaja di backup Inggris untuk memecah belah ummat Islam di awal abad 19,menyebar kesluruh negri kaum muslimin,apalgi ketika Khilafah Islamiyah runtuh dan terpecah menjadi 55 negara yang masing-masing mempunyai pemimpin.Kaum muslimin seperti anak ayam yang kehilangan induknya,setiap serangan terhadap islam baik akidah maupun syariatnya tidak bisa ditangkis bahkan generasi mudanya banyak yang kalah sehingga menganut ide-ide penjajah seperti Sekulerisme, pluralisme, HAM dan lain-lain.

Ahmadiyah,sejak kelahirannya sudah divonis sesat karena mengakui pendirinya sebagai nabi.Di Indonesia,aliran-aliran sesat dijadikan komoditi bagi kalangan liberal kapitalisme untuk menjajagan dan kempanye tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan.

MUI sebgai wadah para ulama yang bertugas membimbing dan membina ummat menjadi sasaran serangan kaum liberalis yang sangat resah terhadap perkembangan Ilsam dan persatuan ummat Islam,diminta agar dibubarkan.sungguh aneh,ketika MUI menjalankan fungsnya sebgai penjaga pemikiran dan akidah ummat malah diserang juga,bahkan pemerintah diminta tidak mengikuti fatwanya.sedangkan kaum liberal yang jelas-jelas mengkufuri al qur’an dan assunah malah dibiarkan.

Islam akan bersatu dengan kekuasaan yang akan diraih oleh generasi ummat yang mukhlis untuk menegakkan syariat dan akidahnya.dengan Khilafah Islamiyah.aliran-aliran sesat akan bisa diberantas termasuk kaum liberal.

The Five Types of Hukm Shari (Shari’ Rules)

 Extract from the book Fikr Islami by Sheikh Mohammad Mohammad Isma’eel

Al-hukm ush-Shar’i (divine rule) is the Legislator’s speech pertaining to the actions of men. Thus al-hukm ush-Shar’i is established by the proof of the speech; and it is identified through understanding the meaning of the speech. The Legislator’s speech is that which came in the Kitab and Sunnah, of orders and prohibitions. Therefore, understanding of the hukm Shar’i depends on understanding the Kitab and Sunnah, for they are the origin of Legislation and the source of ahkam (rules).

However, it is not (true) that every Legislator’s speech must be undertaken, and there is a punishment for its negligence; or it is forbidden to undertake and there is a punishment for doing it. Rather, this depends on the type of speech. Therefore, it is sin and insolence against the deen of Allah (swt) that a person rushes to state that this (matter) is fard, just because he read a verse or a hadeeth that indicates the request of performing it; or he rushes to give a fatwa (legal view) that this (matter) is haram, just because he read an ayah or a hadeeth which indicates the request of abandoning it.

The Muslims are afflicted, these days, with many of such people who rush to make (matters) halal and haram, just by reading the order or the forbiddance in an ayah or a hadeeth. It is often that these people are from amongst those who discovered that they understood before they understand and it is rare that they are from amongst those who understand the meaning of legislation (tashree’). Therefore it is necessary to understand the type of the Legislator’s speech before giving the opinion in the type of the hukm shar’i. In other words, it is necessary to understand the meaning of the hadeeth or the ayah in a legislative way, and not only linguistically, so as the Muslim does not fall in the error of prohibiting what Allah (swt) allowed and allow what Allah (swt) prohibited.

The Legislator’s speech is understood through the text and the connotations (qaraa’in) that determine the meaning of the text. It is not true that every order indicates obligation, and nor does forbiddance indicates prohibition. This is because the order could indicate preference (nadb) or allowance (ibahah); and forbiddance could also indicate dislike (karahah).

When Allah (swt) says:
“Fight against those…” [TMQ At-Tauba:29], He orders with Jihad. The order in this ayah is an obligation (fard), which Allah (swt) persecutes for its negligence. However, the fact that it is an obligation does not come from the order alone. It rather came from other connotations (qaraa’in) that indicated this order is a decisive request of doing the action.

This connotation is other texts, such as His (swt) saying in another ayah:
“If you do not go forth He will afflict you with a painful doom.” [TMQ At-Tauba:39]

And when He (swt) says:
“Do not come close to adultery (zina).” [TMQ Al-Israa:32], He (swt) forbids adultery.

The forbiddance in this ayah is prohibition of adultery, which Allah punishes for doing it. However, the fact that it is haram did not come from the form of forbiddance only. It rather came from other connotations (qaraa’in) that indicated this forbiddance is a decisive request of abstaining from the action This connotation (qareena) is other texts, such as His (swt) saying in the same ayah:
“Lo! It is an abomination and an evil way.” [TMQ Al-Israa:32]

And His (swt) saying in another ayah:
“The adulterer and the adulteress, lash each one of them with a hundred strikes.” [TMQ An-Nur:2]

When Rasool ul-Allah (saw) says:
“The collective prayer (salat ul-Jama’ah) is preferable to the individual prayer with twenty seven degrees.”, he orders with the Jamaa’ah prayer, even though the request did not come in the order form. When he (saw) also says:
“I forbade you from visiting the graves. Look, go visit them.”, he orders with visiting the graves. However, this order or request in these two ahadeeth is mandoob and not fard. The fact that it is mandoob comes from other connotations (qaraa’in), such as his (saw) silence (sukoot) about some people who prayed individually, and his (saw) silence (sukoot) about some people who did not visit the graves. This indicated that it is indecisive request. And when the Rasool (saw) says:
“Who is better off and did not marry, he is not one of us.”

And when we read the forbiddance of the Prophet (saw) from ascetism (tabattul), ie from abstaining from marriage in the hadeeth from Samrah:

“The Prophet (saw) forbade from ascetism.”, we find the Rasool (saw) forbids from abstaining from marriage for the better off (rich) person in the first hadeeth, and he forbids from abstaining from the marriage in and absolute way in the second hadeeth. This does not mean that non marriage in absolute way (the unrestricted abstention from marriage) is haram. This forbiddance rather indicates that it is disliked (makrooh) and not haram.

The fact that it is only makrooh comes from other connotations (qaraa’in), such as the silence (sukoot) of the Prophet (saw) from some rich people when he (saw) knew they did not marry, and his (saw) silence from some of the Sahabah when they did not marry.

And when He (swt) says:
“But when you have left the state of pilgrimage, then go hunting (if you will).”
[TMQ Al-Maidah:2]

“If the (Friday) prayer ended, then disperse/walk in the ard (land).”
[TMQ Al-Jumua:10]

He (swt) orders with hunting after dissolving of ihram (state of hajj), and orders with disperse (in the land) after the (Friday) prayer. However, this order does not indicate that hunting after dissolving of ihram (ritual consecration) is fard and nor it is mandoob; it rather indicates it is mubah. The fact that it is mubah came from another concatenation (qareenah), which is that Allah (swt) ordered with hunting after ihram (ritual consecration) where He forbade of it before (starting) ihram (ritual consecration). He (swt) also ordered with dispersing (in the land) after the Friday prayer after He forbade of it at the (time of) Friday prayer. That concatenation (qareenah) indicated that this order was for ibahah (allowance). Thus the hunting in this case and dispersing in that case are mubah.

Therefore, cognizance of the type of the hukm for the text depends on understanding the text in a legislative (tashree’i) way, by linking the text with the concatenations (qaraa’in) that explains the meaning of the speech in the text. From this, it becomes clear that the ahkam sharee’ah are of many types.

It appears from examining all the texts and all the ahkam that the ahkam sharee’ah are five (types). The fard which means wajib (obligation), the haram which means al-mahdhoor (prohibited), the mandoob, the makrooh and the mubah. This is because the Legislator’s speech, is either a request of (doing) an action, or a request of leaving (an action), or giving choice between doing or leaving. The request (talab) might be decisive or indecisive. If the request of doing the action was decisive, then it is the fard. If it was not decisive, then it is the mandoob (preferable). If the request of abstaining from (the action) was decisive, then it is the haram (prohibited); and if it was indecisive, then it is the makrooh (disliked). The request of (giving) choice is the mubah (allowed).

Thus, the ahkam sharee’ah are only five which are: the fard, the haram, the mandoob, the makrooh and the mubah.

Dari Trialog Peradaban ke Aliansi Global Menentang Hegemoni Kapitalisme

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam “Resonansi”-nya di Harian Republika (8/11), Azyumardi Azra menulis tentang perlunya Trialog Peradaban. Lebih dari sekadar Trialog Peradaban, di akhir tulisannya, Azyumardi memandang pentingnya penciptaan dan penguatan kembali narasi baru tentang “aliansi peradaban” di antara “Anak-anak Ibrahim”. Kenyataan ini karena, menurutnya, kemajuan peradababan sekarang ini bukan hanya bersumber dari “Judeo-Cristian Civilization“, tetapi juga melibatkan konstribusi peradaban Islam. Karena itulah, mengutip Richard Bulliet (2004), ia memandang perlu dibangunnya apa yang disebut sebagai peradaban ‘Islamo-Judeo-Christian Civilization” (Peradaban Islam-Yahudi-Kristen).

Gagasan Trialog Paradaban ini mengemuka kembali dalam Konferensi bertajuk, “Children of Abraham: A Trialogue of Civilization” yang diselenggarakan Harvard University pada 21-24 Oktober 2007, dengan Azyumardi Azra sebagai salah satu pembicaranya, yang merupakan satu-satunya wakil dari Asia. Istilah trialog peradaban ini antara lain pernah diperkenalkan pada tahun 1980-an oleh Prof. Ismail al-Faruqi, intelektual Palestina, yang merupakan guru besar Temple University, Philadelphia. Al-Faruqi bahkan kemudian menulis buku dengan judul, Trialogue of Abrahamic Faith (Trialog Millah Ibrahim). Penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh pandangannya bahwa pembicaraan segitiga di antara para pengikut agama Ibrahim (Islam-Yahudi-Kristen) sangat esensial bagi terciptanya perdamaian di kawasan konflik Palestina-Israel, juga di muka bumi secara keseluruhan. Hal ini menurutnya mudah dipahami karena konflik Palestina-Israel—yang selalu menimbulkan gejolak di Timur Tengah dan berdampak ke tempat lain—melibatkan ketiga pemeluk agama: Islam-Yahudi-Kristen. Di sinilah pentinggnya Trialog itu, tegasnya.

Trialog Peradaban dan Millah Ibrahim

Gagasan Trialog Peradaban tentu tidak terlepas dari pemahaman yang keliru mengenai apa yang disebut dalam al-Quran sebagai “Millah Ibrahim” (Agama Ibrahim). Al-Quran memang menyebut istilah ini paling tidak di 8 tempat (QS al-Baqarah [2]: 30 dan 135; Ali Imran [3]: 95; an-Nisa’ [4]: 125; al-An’am [6]: 161; Yusuf [12]: 38; an-Nahl [6]: 123, al-Hajj [22]: 78). Ibrahim juga memang melahirkan sejumlah keturunan yang kebetulan juga menjadi nabi (seperti Ismail dan Ishaq dan keturunannya) sehingga ia sering disebut Abu al-Anbiya’ (Bapak Para Nabi). Selain itu, agama Islam, Yahudi dan Kristen juga sering dianggap berakar pada ajaran yang sama, yakni monoteisme (tauhid), yang tidak lain bersumber dari ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim (Millah Ibrahim). Karena itu, Ibrahim pun sering disebut sebagai “Bapak Monoteisme”. Karena itu pula, secara sederhana kemudian disimpulkan bahwa Islam, Yahudi dan Kristen adalah “bersaudara”. Ketiganya, sebagaimana kata Azyumardi, ibarat “kakak-adik” yang memiliki banyak kesamaan, juga berbagi sejarah yang sama. Inilah kira-kira yang mendasari diusungnya wacana mengenai pentingnya “trialog” sesama saudara; bukan hanya dalam tataran transenden (keyakinan/spiritualitas), tetapi bahkan dalam tingkat peradaban. Dengan itu diharapkan, tidak akan lagi terjadi konflik antar ketiga pemeluk agama besar tersebut.

Millah Ibrahim: Meluruskan Pemahaman

Allah SWT berfirman:

﴿هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ هُوَ سَمَّاكُمْ المُسْلِمِيْنَ مِنْ قَبْلُ﴾

Dia telah memilih kamu (untuk mengemban urusan agama-Nya) dan Dia tidak akan menjadikan kesulitan dalam urusan agama ini pada kalian; (maka, ikutilah) agama bapak kalian, Ibrahim. Dia telah menamai kalian sebelumnya dengan nama Muslim. (QS al-Hajj [22]: 78).

Dalam ayat di atas, kata millah secara umum berarti dîn dan syarî‘ah, meski dalam konteks ayat ini berarti ashl[a] at-tawhîd (pangkal tauhid), seperti keyakinan akan keesaan Allah. Karena itu, konotasi frasa ini adalah: Ikutilah agama tauhid bapakmu, Ibrahim, bahwa tiada yang berhak disembah melainkan Allah. Menurut Ibn Manzhur juga demikian. Namun, pengertian tersebut kemudian di-takhshîsh secara terpisah (munfashil) dengan nash al-Quran yang muhkam:

]وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ[

Kami telah menurunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) serta menindihnya. Karena itu, putuskanlah perkara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kalian Kami memberikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu agama (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian. (QS al-Ma’idah [5]: 48).

Ini adalah ayat muhkam yang menjelaskan, bahwa Allah telah menurunkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya kitab suci al-Quran yang berfungsi sebagai standar untuk mengukur benar-salahnya ajaran sebelumnya, sekaligus sebagai penghapus ajaran-ajaran tersebut. Masing-masing telah diberi syariah dan tuntunan yang berbeda oleh Allah. Seandainya Allah mau, tentu Dia hanya akan menjadikan untuk seluruh nabi dan umat manusia satu agama saja. Namun, justru dengan perbedaan agama tersebut, Allah hendak menguji khususnya kepada Nabi Muhammad dan umatnya, mengenai sejauh mana keterikatan mereka pada ajaran yang diturunkan kepada mereka.

Dari sini, bisa disimpulkan, bahwa konotasi millah Ibrâhîm tersebut memang bisa meliputi konteks agama secara umum, yang meliputi akidah dan syariah. Hanya saja, setelah di-takhshîsh dengan surah al-Maidah ayat 48 ini, maka keumuman konteksnya telah dibatasi hanya pada aspek akidah, sehingga bisa disimpulkan, bahwa perintah mengikuti millah Ibrâhîm adalah perintah mengikuti prinsip-prinsip akidahnya, sementara terhadap syariahnya tidak.

Dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul dan umatnya itu berbeda-beda; masing-masing mempunyai syariah yang berbeda dengan yang lain, sebagaimana yang dinyatakan dalam surah al-Maidah ayat 48, meski prinsip-prinsip akidahnya sama, yaitu tawhîd.

Trialog Peradaban: Out of Contex

Memang benar, dunia saat ini sarat dengan konflik. Namun, tidak benar jika konflik-konflik yang terjadi saat ini dipicu oleh faktor agama, atau melibatkan tiga pemeluk agama: Islam, Yahudi dan Kristen. Artinya, yang terjadi sesungguhnya bukanlah konflik yang berlatar belakang teologis, namun lebih bersifat ideologis dan politis.

Konflik Palestina-Israel lebih dari setengah abad, misalnya, jelas bukan konflik tiga agama: Islam, Yahudi dan Kristen. Sebab, toh dalam rentang sejarah yang sangat panjang selama berabad-abad ketiga pemeluk agama ini pernah hidup berdampingan secara damai dalam naungan sistem Islam. Memang, sejarah pernah mencatat konflik Islam-Kristen yang berkepanjangan yang meletuskan beberapa kali Perang Salib. Namun, Perang Salib sesungguhnya lebih bersifat politis ketimbang berlatar-belakang teologis. Demikian pula dengan konflik Palestina-Israel. Konflik ini lebih bernuansa politis yang melibatkan imperialis Barat. Sejarah membuktikan, bahwa konflik Palestina-Israel bermula ketika bangsa Yahudi (Israel) sengaja “ditanam” oleh penjajah Inggris di jantung Palestina dalam ranga melemahkan umat Islam. Konflik ini kemudian dipelihara oleh Amerika Serikat yang menggantikan peran Inggris, untuk semakin melemahkan kekuatan umat Islam, khususnya di Timur Tengah. Pasalnya, dengan begitu Barat dapat terus-menerus menyibukkan umat Islam dengan konflik tersebut sehingga umat Islam melupakan bahaya hegemoni Barat—khususnya AS dan Inggris—sebagai penjajah mereka.

Dalam sekala lokal, konflik yang pernah terjadi di Maluku atau Poso, misalnya, juga lebih bernuansa politik, yakni adanya campur tangan asing (yang tidak lain kaum imperialis Barat) untuk melemahkan Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, ketimbang berlatar belakang agama.

Sementara itu, dalam sekala yang lebih luas dan global, konflik Barat-Timur (yang sering dianggap mencerminkan konflik Kristen-Islam), khususnya setelah Peristiwa 11 September 2001, jelas juga lebih berlatarbelakang ideologi dan politik ketimbang agama. Memang, sesaat setelah terjadinya Peristiwa 11 September, Presiden AS George W Bush pernah “khilaf” dengan menyebut secara jelas bahwa WoT (War on Terrorism) sebagai Crussade (Perang Salib) baru. Lalu setelah itu AS menyerang Afganistan, dan kemudian dilanjutkan dengan menyerang Irak. Namun, banyak pakar Barat dan AS sendiri yang menjelaskan bahwa serangan militer AS ke Afganistan maupun Irak bahkan lebih bermotifkan ekonomi (yakni demi minyak)—di samping politik (demi hegemoni ideologi Kapitalisme), dan bukan bermotifkan agama.

Karena itu, sangat tidak relevan dan out of contex (di luar konteks) jika untuk menghentikan konflik-konflik tersebut dan sekaligus menciptakan perdamaian dunia digagas Trialog Peradaban (Islam-Yahudi-Kristen). Pasalnya, akar konflik-konflik tersebut, sekali lagi, lebih bermotifkan ideologi dan politik—yakni hegemoni Kapitalisme yang diusung Barat, khususnya AS, atas Dunia Islam—ketimbang berlatar-belakang agama.

Aliansi Global Menentang Hegemoni Kapitalisme Global

Jelas, yang dibutuhkan saat ini bukanlah Trialog Peradaban apalagi Aliansi Peradaban antara Islam-Yahudi-Kristen. Sebab, Islam sangat berbeda dengan Kristen maupun Yahudi. Allah SWT sendiri secara tersirat telah memandang Yahudi dan Nasrani sebagai agama kaum musyrik, sebagaimana firman-Nya:

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Mereka berkata, “Hendaklah kalian menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk.” Katakanlah, “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Tidaklah Ibrahim itu termasuk golongan kaum musyrik.” (QS al-Baqarah [2]: 135).

Karena itu, kalaupun kita berbicara dalam konteks agama, yang perlu dilakukan umat Islam sesungguhnya adalah menyeru para pemeluk Kristen dan Yahudi untuk memeluk Islam, dan bukan trialog untuk mencari titik temu dan kesamaan. Masalahnya, mana mungkin Islam yang mengajarkan tauhid (QS 5: 73-77; QS 19: 88-92; QS 112: 1-4) disamakan dengan Kristen yang mengakui Yesus sebagai anak Tuhan ataupun disamakan dengan agama Yahudi yang mengklaim Uzair juga sebagai anak Tuhan?! Allah SWT mengajari kita melalui firman-Nya:

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah. Karena itu, ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS Ali Imran [3]: 95).

Adapun dalam konteks peradaban, Islam—sebagai agama sekaligus ideologi—jelas pemilik salah satu peradaban: peradaban Islam. Sebaliknya, Kristen dan Yahudi—karena wataknya sekadar sebagai agama an sich (”agama murni”)—tidak melahirkan peradaban apapun. Peradaban Barat saat ini jelas bukan peradaban yang diilhami oleh teologi Kristen maupun Yahudi, tetapi murni lahir dari rahim ideologi Kapitalisme. Dengan kata lain, Peradaban Barat adalah peradaban kapitalis dan tidak bisa disebut sebagai Peradaban Kristen atau Yahudi. Karena itu, kalaupun ada wacana tentang dialog antarperadaban, yang paling relevan adalah dialog antara peradaban Islam dan Kapitalisme. Namun, mungkinkah itu dilakukan? Jelas tidak mungkin. Ini karena watak masing-masing ideologi yang bersifat defensif sekaligus ofensif satu sama lain. Intinya, mustahil ada dialog antara Islam dan Barat atau antara Islam dan Kapitalisme yang saling menegasikan satu sama lain. Yang mungkin justru benturan peradaban, sebagaimana yang diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, Samuel Huntington.

Walhasil, saat ini yang dibutuhkan bukanlah Trialog Peradaban Islam-Yahudi-Kristen, namun aliansi global—tidak hanya pemeluk ketiga agama ini—untuk menentang hegemoni Kapitalisme, yang terbukti telah menimbulkan banyak krisis kemanusiaan, yang tidak hanya dialami oleh umat Islam, juga oleh umat manusia secara keseluruhan. Bukankah korban konflik Palestina-Israel tidak hanya umat Islam?! Bukankah korban perang Barat (AS dan Sekutunya) terhadap Afganistan maupun Irak tidak hanya umat Islam?! Bukankah korban konflik di Maluku maupun Poso tidak hanya umat Islam?! Bukankah korban dari krisis ekonomi kapitalis tidak hanya umat Islam?! Bukankah korban dari kejahatan ideologi Kapitalisme global tidak hanya umat Islam….?! Khilafah Islamiyyah itulah aliansi global bagi ummat Islam yang bermanfaat juga bagi non Islam.

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []

Lajnah Siyasiyah
Hizbut Tahrir Indonesia
11 November 2007

Penyesalan yang Sangat Berarti

Penyesalan yang Sangat Berarti
Oelh: Zaidan Ats-tsalis

Allah SWT berfirman yang artinya:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Ar-Ra’du: 11)

[767] bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat Ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah.
[768] Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

PERUBAHAN.
Kehidupan sejak awalnya sudah mengindikasikan sebuah perubahan. Berkaca dari diri kita sendiri. Dari pertemuan sperma dan ovum, hidup (berubah) di alam kandungan, terlahir sebagai sosok manusia kecil mungil. Seiring waktu terjadi perubahan secara jasad, begitu juga dengan mental dan sikap perangai. Dari lingkungan dan ilmu yang didapat menjadikan sebuah karakter yang kita dapati sekarang ini. Perubahan besar telah terjadai pada diri kita, begitu juga lingkungan, semuanya pasti bergerak yang kita sebut perubahan.
Yang menjadi permasalahan apakah kita akan menjadi obyek saja atau menjadi subyek sekaligus obyek perubahan tersebut. Jika kita hanya menjadi obyek, itu artinya kita tidak tahu harus berubah seperti apa, mengalir kemana saja air mengalir, melayang kemana angin berhembus.
Jika kita menjadi subyek dan sekaligus obyek perubahan maka kita menjadi orang yang mengerti bagaimana seharusnya diri dan lingkungan kita, kita mempunyai keinginan dan gambaran yang kuat tentang kondisi seperti apa yang terbaik, serta kita akan bergerak secara terus menerus ke dalam kondisi ideal tersebut. Proses pergerakan tersebut otomatis akan menjadikan diri kita menjadi subyek dan obyek, kita akan menjadi motor penggerak sekaligus teladan/sosok perubahan idealis tersebut.

Perubahan ada yang sifatnya universal dan ada yang khas. Yang ingin saya bahas adalah perubahan yang unik atau yang khas. Perubahan unik terjadi karena manusia menggunakan akalnya. Sedangkan perubahan universall karena memang sunnahtullah, pasti siapapun akan mengalaminya,seperti dari bayi menjadi balita lalu remaja,tua lalu mati. Rambut awalnya hitam memudar menjadi putih. Dan lain sebagianya.

Perubahan yang unik
Saya akan ceritakan tentang kisah sahabat Rasulullah yang bernama Abu Darda, sebelum masuk Islam adalah saudagar kaya yang keseharian berada di toko. Ada sebuah kebiasaanya ketika sebelum ke toko yaitu pagi stelah bangun tidur dia menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar, sesudah itu patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang megah, yang diperolehnya dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja mengunjunginya.
Abu Darda adalah sahabat Abdullah bin Ruwahah yang sudah masuk Islam terlebih dahulu. Suatu ketika, Abdullah bin Ruwahah berkunjung kerumahnya ketika Abu Darda masih di tokonya (pasar), Abdullah disambut istri Abu Darda yang sedang ”ngemong” anaknya. Ketika masuk rumah nya Abdullah langsung menuju kamar berhala Abu darda dan menghantamkan palu yang telah dipersiapkannya, sambil mengatakan, “Ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil!”.
Ummu Darda yang mengetahui itu menangis karena takut kemarahan suaminya. Dan akhirnya ummu darda pun mengadukan kejadian tersebut sesampainya Abu Darda dirumah sehingga otomatis Abu Darda marah. Mulanya dia bermaksud hendak mencari Abdullah. Tetapi, setelah kemarahannya berangsur padam, dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian katanya, “Seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri.” Abu Darda’ pun mendapatkan hidayah dari proses dia berpikir sehingga ia pun mencari Abdullah untuk mengajaknya bertemu Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya.

Perubahan dari proses berpikir adalah perubahan yang unik, bisa merubah prilaku dan sikap seseorang hanya dalam waktu sekejab bahkan bisa menghancurkan keyakinan yang terpupuk selama bertahun-tahun.

Manusia Berubah karena Pemahamannya
Akal adalah anugerah Allah sebagai awal manusia mendapatkan dan menggunakan hidayah Allah. Dengan akal, manusia bisa berpikir, menyerap fakta yang terindra dan mengaitkannya dengan informasi yang didapat, hingga mendapatkan sebuah persepsi atau pemahaman tentang fakta tersebut. Informasi yang tidak meyakinkan (meragukan) akan mudah dirubah dengan informasi yang meyakinkan (berdalil), informasi yang sesuai dengan realita akan mudah dipahami atau diyakini daripada informasi yang tiada faktanya. Abu Darda hanyalah berasumsi dengan perasaanya bahwa patung yang dia sembah adalah perwujudan dari Tuhannya. Tetapi ketika didapatkannya sebuah fakta baru dan informasi yang meyakinkan dengan hancurnya ”sang tuhan” yang ternyata jauh dari informasi yang benar tentang Tuhan, menyadarkan dan merubah persepsinya tentang Tuhan. Dan untungnya lagi, Abu Darda mau menggunakan akal yang diberikan Allah sehingga dia bisa menggunakan hidayah lain yaitu al irsyad wal bayan (Al qur’an) sebagai pusat informasi yang benar.
Sejak itu pula, perubahan besar terjadi pada dirinya. Dia bisa merubah suka dan bencinya, bisa merubah cara pandangnya tentang dunia dan seisinya. Sejak detik pertama Abu Darda iman dengan Allah dan Rasul-Nya, dia iman dengan sebenar-benar iman. Dia sangat menyesal agak terlambat masuk Islam. Sementara itu, kawan-kawannya yang telah lebih dahulu masuk Islam telah memperoleh pengertian yang mendalam tentang agama Allah ini, hafal Alquran, senantiasa beribadat, dan takwa yang selalu mereka tanamkan dalam dirinya di sisi Allah. Karena itu, dia bertekad hendak mengejar ketinggalannya dengan sungguh-sunggu sekalipun dia berpayah-payah siang dan malam, hingga tersusul orang-orang yang telah berangkat lebih dahulu. Dia berpaling kepada ibadat dan memutuskan hubungannya dengan dunia; mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan; mempelajari Alquran dengan tekun dan menghafal ayat-ayat, serta menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala dirasakannya perdagangannya terganggu dan merintanginya untuk beribadat dan menghadiri majlis-majlis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaanya tanpa ragu-ragu dan tanpa menyesal.
Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu, orang pernah bertanya kepadanya. Maka, dijawabnya, “Sebelum masa Rasulullah, saya menjadi seorang pedagang. Maka, setelah masuk Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput salat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar.” Kemudian, saya menengok kepada si penanya dan berkata, “Saya tidak mengatakan, Allah Ta’ala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak menganggu saya untuk dzikrullah (berzikir).”
Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekadar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.

Saya tidak akan membahsa tentang kezuhudan Abu Darda’,tetapi bagaiman dengan sebuah pemahaman bisa merubah seseorang sedemikain dahsyat.

Itulah yang kita butuhkan sekarang yaitu pemikiran Islam (menilai segala sesuatu dengan aqidah Islam) yang akan merubah perasaan qonaah dan ridho kita hanya untuk Islam. Maha benar firman Allah yang tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum tersebut merubah dirinya sendiri.

Penyesalan yang sangat berarti ketika penyesalan tersebut membuat kita berubah ke arah yang benar yaitu berkepribadian Islam dan menjadi pembela Islam yang tangguh berdakwah di segala medan pertempuran di kehidupan sekarang ini. Sunnguh telah bangkrut dan celaka orang yang hari ini lebih buruk daripada kemarin.

Hanya Ada Dua Jalan

Hanya Ada dua Jalan
Oleh: Zaidan Ats-Tsalis

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al Balad: 10)

Di dalam menjalani hidup ini, manusia adalah pemegang amanah risalah Allah. Ketika mahluk lain tidak mau memegang kepemimpinan, tetapi manusia dengan sombongnya ”Mau” memikulnya. Allah memberikan kelebihan daripada mahluk lain yaitu ”AKAL”. Dengan akal ini manusia bisa berpikir membedakan mana yang hak dan yang batil.
Manusia hidup di dunia (bumi tepatnya) membawa sebuah misi kehidupan dari Allah. Masing-masing individu menjadi subyek dalam misi tersebut, dan batas tugas tersebut pun masing-masing individu manusia berbeda. Ada yang baru tugas atau mendarat di bumi sudah dipanggil lagi untuk kembali, ada yang 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 70 tahun dan macam-macam jangka waktunya tergantung dari pemberi Perintah. Asyiknya, masing-masing individu tidak ada yang tahu sampai kapan misi itu harus diselesaikan. Sang pemberi Perintah pun hanya memberikan potensi kehidupan dan akal serta petunjuk peta kehidupan.

Salah satunya dalam peta kehidupan tersebut disebutkan seperti ayat diatas ”Dan Kami (Allah) telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. Ya, hanya ada dua jalan yaitu golangan kanan dan golongan kiri. Seperti lanjutan dari surat Al Balad ayat 17-20.
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ

17. Dan dia (Tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.
19. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golongan kiri.
20. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.

Di dalam menjalani dua jalan ini ternyata, masing-masing individu menjalani kisah hidup sendiri-sendiri(kehidupan itu bersifat individual), sebanyak individu di muka bumi maka sebanyak itu pulalah kisah perjalanan hidup. Tetapi dari kisah hidup itu tetap saja bisa dimasukkan hanya ke dalam dua kategori yaitu golongan kanan dan golongan kiri.

Antara Pilihan dan Taqdir
Rizki (pemberian) Allah sudah ada kadarnya, masing-masing orang sudah punya jatahnya. Bekerja adalah pilihan, sehingga bisa dengan cara halal dan cara haram. Mati adalah suatu kepastian, cara mati adalah pilihan, jika ingin cara mati yang baik maka berdoa dan senantiasa berkelakuan baik. Khalid bin Walid, memilih untuk mati di medan perang fisabilillah maka hidup dan matinya hanya di fokuskan kepada setiap perjuangan Islam di medan perang dengan kekufuran, walaupun Khalid tahu bahwa Rasulullah pernah mengatakan bahwa Khalid akan mati di kasur. Khalid menjemput kepastian berupa kematian dengan berjuang di jalan Allah di tubuhnya ratusan bekas luka pedang dan tombak. Tempat mati kita adalah ketentuan illahi (rahasia illahi) maka berharap-harap cemaslah setiap waktu dan setiap tempat, siapa tahu itu adalah tempat kita mati. Tentu kita berharap mati di masjid ketika sholat dan ngaji, mati di medan jihad fisabilillah, mati di tempat kerja yang halal, mati ketika melaksanakan kewajiban kepada Allah dan menjauhi larangan allah, bukan mati dalam kondisi ketika melaksanakan keharaman dan meninggalkan kewajiban.

Maka, kita bisa memilih meninggalkan medan jihad, tidak sholat, berani kepada orang tua, tidak dakwah berjamaah, tidak ikut berjuang menegakkan khilafah, tidak sholat tahajud, tidak sholat dhuha, tidak mentadaburri Al qur’an, memilih menyendiri bertempat tinggal di tempat yang tenang di pulau terpencil, bekerja di tempat ribawi, dan lain sebagaianya.
Dalam kehidupan pasti kita dihadapkan pada setiap pilihan. Tentunya tidak akan sulit jika iman yang kuat tertanam di dada, kita akan pastikan setiap pilihan kita masih di jalur kanan, dan menjauhi sejauh-jauhnya golongan kiri.
Keimanan kita kepada Allah bahwa tawakallah yang menentukan rizki kita, akan menambah sepak terjang kita dalam bekerja di jalur kanan (cara yang halal). Keimanan kepada Rasulullah semakin menambah sepak terjang kita dalam meneladaninya di setiap kehidupan termasuk dakwah. Keimanan kepada Al Quran semakin menambah kita menjalani kehidupan dengan peta yang benar pasti selamat sampai tujuan.

Setiap Pilihan Pasti Di pertanggungjawabkan
Ada sebuah tulisan yang menanyakan seorang muslimah yang menikahi orang kafir karena cintanya. Menikah adalah pilihan dan cerai juga pilihan. Allah melarang seorang muslimah menikah dengan orang kafir maka telah jelas sekali pilihannya.
Ada yang bekerja di bank ribawi dengan alasan bekerja menafkahi keluarga. Pilihan yang juga jelas harus dipertanggungjawabkan, bekerja masih banyak pilihan yang lain, banyak orang tidak kerja di bank bisa menghidupi keluarganya.
Berhenti dakwah (baik fardhiyah maupun jamaah)juga adalah pilihan.

Seni dalam memilih:
1. Pilihlah dan kerjakan sekuat mungkin setiap kewajiban baik kewajiban fardhiyah maupun kewajiban kifayah…(kewajiban tidak akan pernah gugur sebelum dilakukan)
2. Pilihlah dan kerjakan amalan sunnah yang sekiranya bisa istiqomah, latihlah secara bertahap dan jadikan sebuah kebiasaan hingga menjadi karakter.
3. Pilihlah perbuatan yang mubah dan kerjakan secukupnya, jangan berlebihan karena bisa mengeraskan hati. (hati yang keras akan sulit menerima kebenaran)
4. Pilihlah untuk mengatakan “TIDAK” pada setiap keharaman dan juahi sejauh-jauhnya.
5. Pilihlah untuk menjaga diri berani meninggalkan yang Makruh, karen bisa meninggalkan yang makruh insayallah yang Haram pasti bisa.

Dalam setiap pilihan selain keimanan yang kuat diperlukan tipikal manusia yang haus akan ilmu, karena tanpa ilmu, manusia akan salah melangkah. JADILAH ORANG YANG BERILMU sehingga mampu membedakan yang haq dan yang batil karena Allah.

Menangkap ‘Spirit’ Idul Fitri

Idul Fitri baru saja kita lalui, menyusul berakhirnya puasa Ramadhan selama sebulan yang telah sama-sama kita lewati. Pada bulan Syawal ini umat Islam kembali ke kehidupan ‘normal’ seperti hari-hari sebelumnya: menjalani aktivitas harian yang mungkin sempat ‘tersita’ oleh kegiatan mengisi bulan suci Ramadhan dengan ragam amal ibadah, yang dilanjutkan dengan merayakan ‘hari kemenangan’, yang umumnya diisi dengan kegiatan mudik untuk bersilaturahmi dengan kerabat dan saling mengunjungi sesama.

Ramadhan boleh saja berlalu. Puasa—dalam artian menahan lapar dan dahaga seharian selama sebulan penuh—boleh saja berakhir. Itu adalah sunnatullah. Namun demikian, jika esensi puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah sekaligus mengendalikan hawa nafsu agar selalu tunduk dan taat pada semua perintah-Nya, ‘puasa’ sejatinya tidak pernah berakhir selama hayat dikandung badan. Bukankah menahan diri dari hal-hal yang Allah haramkan sekaligus menundukkan hawa nafsu pada semua perintah-Nya adalah merupakan esensi dari ketakwaan, yang sejatinya buah dari pelaksanaan shaum Ramadhan yang dijalani setiap Muslim? (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 183). Bukankah Baginda Rasulullah saw. pun mengukur kesempurnaan iman seseorang dari sejauh mana kemampuannya menundukkan hawa nafsunya pada semua aturan yang Beliau bawa, yakni aturan-aturan syariah?

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»

Tidak beriman seseorang sampai dia menundukkan hawa nafsunya pada apa saja yang aku bawa (aturan-aturan syariah).

Karena itulah, jika selama menjalani shaum Ramadhan seorang Muslim menahan diri untuk berbohong, berkata-kata kotor dan keji, menggunjing, menipu, menyakiti dan menzalimi orang lain maka demikianlah sejatinya ia selalu berperilaku meski Ramadhan telah berlalu. Jika selama berada di bulan suci seorang artis menutup auratnya rapat-rapat dan bahkan berhenti manggung atau main film/sinetron yang sarat dengan maksiat maka demikianlah semestinya ia senantiasa bersikap meski bulan suci sudah ia lewati.

Jika selama menjalani puasa Ramadhan seorang penguasa atau pejabat berhenti korupsi, menerima hadiah dan suap, menelentarkan dan zalimi rakyat maka demikianlah seharusnya ia selalu bertindak meski ia sudah meninggalkan bulan Ramadhan. Jika selama bulan suci seorang politisi ‘istirahat’ dari upaya ‘menjilat’ kesana-kemari maka demikianlah seharusnya ia selalu bersikap meski shaum tak lagi ia jalani.

Singkatnya, bulan puasa hanyalah momentum untuk mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya kita sebagai Muslim menjalani kehidupan ini—sepanjang tahun, tidak hanya selama Ramadhan—agar selalu berada dalam ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yakni senantiasa menundukkan hawa nafsu pada semua perintah Allah dan menahan diri dari semua yang Dia larang.

Kenyataan Saat Ini

Sayang, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, esensi puasa di atas seperti tidak pernah dipahami dan seolah dilewatkan begitu saja oleh kebanyakan Muslim. Usai Ramadhan, banyak Muslim yang kembali suka berbohong, menggunjing dan menyakiti orang lain. Usai puasa, banyak artis yang kembali ke dunia maksiat, mengobral aurat dan melakukan tindakan tak terpuji. Usai shaum, banyak pejabat yang kembali melakukan korupsi dan menelantarkan rakyat.

Usai bulan suci, banyak politisi yang kembali bermanuver serta ‘menjilat’ kesana-kemari. Yang terjadi saat ini, meski Pemilu 2009 masih dua tahun lagi, energi para pejabat dan politisi malah mulai tersedot ke arah bagaimana cara mempertahankan/meraih posisi pada ajang Pemilu lima tahunan tersebut. Momentum silaturahmi Idul Fitri pun dimanfaatkan untuk melakukan penjajakan sebelum dilanjutkan dengan berkoalisi, melakukan manuver politik dan meraih simpati. Setelah mengajukan usulan kontroversial untuk kembali ke asas tunggal, yang kemudian banyak menuai kritik, beberapa partai besar, di antaranya PDIP dan Golkar, diberitakan sedang menggagas Liga Nasional. Tujuannya konon untuk memperteguh komitmen terhadap Pancasila, UUD 45, NKRI dan Pluralisme (Media Indonesia, 22/10/07).

Namun, siapapun tahu, saat mereka berkuasa, justru negeri ini carut-marut. Timor Timur malah lepas dari NKRI. RMS di Maluku dan OPM di Papua masih dibiarkan unjuk gigi. Kemiskinan dan pengangguran tak pernah bisa diatasi. Banyak BUMN dijual murah kepada pemodal luar negeri. Pluralitas (keragaman) justru hendak dipasung kembali dengan usulan asas tunggal. Tidak aneh jika ada yang menilai bahwa gagasan untuk membentuk Liga Nasional hanyalah ajang untuk berkoalisi menjelang Pemilu 2009.

Di sisi lain, wacana Capres/Cawapres jauh-jauh hari sudah banyak dibahas. PDIP sudah memastikan mengusung kembali Megawati menjadi Capres 2009. PKB juga berencana mengusung kembali Gus Dur menjadi Capres 2009. Dari kalangan independen, Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso—setelah secara terbuka mendeklarasikan diri akan maju menjadi Capres 2009—kini mulai rajin mendekati sejumlah parpol yang diharapkan bisa menjadi kendaraan poltiknya. Partai-partai lain, khususnya partai-partai besar, meski belum pasti, tak ketinggalan menjadikan isu Capres/Cawapres ini sebagai wacana utama sekaligus fokus agenda politiknya.

Lalu bagaimana dengan kondisi rakyat secara umum saat ini? Adakah mereka menjadi perhatian utama penguasa, para pejabat dan para politisi di atas sebagaimana saat-saat mereka berkampanye menjelang Pemilu?

Sayang, nasib rakyat yang sudah lama terpuruk seolah semakin terlupakan. Di bidang ekonomi, misalnya, pelayanan terhadap masyarakat seperti penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, layanan kesehatan dan pendidikan serta perbaikan infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar rakyat seolah tak pernah serius diurusi. Selama tiga tahun kepemimpinan SBY-JK kebutuhan mendasar rakyat tersebut tampak gagal diwujudkan. Wajar jika dalam dua tahun waktu yang tersisa dari pemerintahan SBY-JK, banyak pihak pesimis akan nasib bangsa ini. Pasalnya, sebagaimana dinyatakan Pengamat LIPI Syamsuddin Haris, “Fokus SBY dan kabinetnya sudah terpecah dengan semakin dekatnya Pemilu.” (Kompas, 22/10/07).

Memang, Pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi saat ini cukup signifikan. Namun, pertumbuhan ekonomi dalam negeri saat ini di era Pemerintahan SBY lebih dipicu oleh pertumbuhan pasar uang, tidak mencerminkan pertumbuhan sektor riil. “Pertumbuhan pasar uang ini terutama terjadi karena banyaknya pemain asing yang masuk ke Indonesia. Mereka tergiur dengan tawaran bunga tinggi,” demikian komentar Pengamat Ekonomi UGM Ichsanuddin Noorsy. (Kompas, 22/10/07). Karena itu, meski pertumbuhan ekonomi diklaim positif, kemiskinan dan pengangguran justru makin meningkat. Wajar jika jajak pendapat Harian Kompas 6-7 Oktober 2007 menunjukkan, bahwa kepercayaan publik (rakyat) terhadap Pemerintah saat ini semakin pupus.

Menangkap ‘Spirit’ Idul Fitri

Sebagaimana puasa Ramadhan, Idul Fitri boleh saja pergi, dan Hari Raya Lebaran boleh saja tinggal kenangan. Namun, jika esensi Idul Fitri adalah kembali ke fitrah, sementara kembali ke fitrah berarti kembali ke ke ketaatan kepada Allah dengan menjalankan syariah-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, maka demikianlah seharusnya bangsa yang mayoritas Muslim ini bersikap. Apalagi, di samping secara fitrah manusia memang butuh diatur oleh syariah, syariah jugalah yang bisa menjadi satu-satunya solusi untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, yang terbukti tidak pernah bisa menyelesaikan persoalannya sendiri.

Kenyataan sudah membuktikan, selama puluhan tahun kita diatur oleh berbagai aturan yang bersumber dari ideologi Kapitalisme-sekular, nasib bangsa ini tidak pernah menjadi lebih baik. Ekonomi kita makin terpuruk. Politik kita semakin carut-marut. Dunia pendidikan kita tak pernah berhenti menuai masalah. Peradilan kita tak kunjung bisa menciptakan keadilan. Hukum kita tak pernah mampu menurunkan angka kejahatan. Bahkan kemerdekaan kita pun terampas karena saat ini kita sesungguhnya sedang berada dalam perangkap penjajahan baru (neo-imperialisme)—secara ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya dan seterusnya. Pantaslah jika Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ


Apakah hukum Jahiliah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya, dibandingkan dengan Allah, bagi kaum yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Dengan merenungkan kondisi di atas, sudah saatnya seluruh komponen bangsa ini, khususnya umat Islam, tidak lagi berpaling dari aturan-aturan Allah SWT. Sebab, sesungguhnya keberpalingan kita dari aturan-aturan Allah yang sudah sedemikian lamanya, itulah yang menjadikan kita selalu mengalami kesempitan hidup di dunia—sebagaimana yang sedang kita alami—apalagi di akhirat kelak. Allah SWT memperingatkan:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى


Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta. (QS Thaha [20]: 124).

Karena itulah, hendaknya kita semua segera—tanpa perlu menunda-tunda lagi—menyambut seruan Allah SWT untuk menerapkan seluruh syariah-Nya secara total dalam kehidupan, sebagaimana firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ


Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 20).

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []