Minyak Bumi Sebagai Andalan, Junta Myanmar Tidak Gentar

Minyak Bumi Sebagai Andalan, Junta Myanmar Tidak Gentar

Di saat para biksu Myanmar menyerukan aksi damai bersama di Yangon, yang mengusung puluhan ribu rakyat Myanmar, Menteri Perminyakan India, Diaura, menandatangani persetujuan kerja sama dengan Junta Militer untuk proyek eksplorasi sumber minyak bumi di tiga titik di laut lepas Myanmar. Selain itu perusahaan minyak dari Tiongkok, Korea Selatan dan Thailand juga sedang gencar–gencarnya ingin menggali sumber daya alam di Myanmar yang sangat melimpah itu.

Di saat bersamaan, perusahaan pertambangan raksasa Prancis, Total SA, bersama dengan Petronas Malaysia telah berhasil memperoleh gas alam yang melimpah ruah dari laut lepas Myanmar melalui sebuah pipa besar milik Thailand. Data dari perusahaan minyak Thailand, PTT, menunjukkan bahwa rencana besar ini nantinya akan mencapai 90 persen dari ekspor gas alam Myanmar.

Seluruh perusahaan asing yang saling bersaing untuk “menjamah” sumber daya alam Myanmar, sering dituduh memberikan dukungan finansial kepada Junta Militer Myanmar, bahkan bersama–sama dengan pihak militer melakukan penindasan dan pelanggaran HAM. Setelah penindasan Junta Militer terhadap para peng-unjuk rasa minggu ini, seruan dan kecaman agar para penanam modal asing untuk segera mencabut investasinya di Myanmar semakin gencar. Ketua Komite Hukum sebuah organisasi lingkungan hidup, Siemens, yang menyebut organisasi tersebut dengan nama “Kelompok Hak Asasi Bumi Internasional”, menyatakan, “Mereka telah mendukung pemerintahan diktator ini dengan uang, minyak dan gas alam, hal itu akan dapat membuat rezim ini terus bertahan.”

Berdasarkan prediksi dari perusahaan minyak Inggris, jumlah pasokan gas alam Myanmar hingga akhir tahun 2006 mencapai 538 milyar kubik, walaupun jumlah ini hanya 0.3 persen dari jumlah pasokan total seluruh dunia, jika dilihat dari efisiensi produksinya sekarang ditambah lagi dengan harga yang telah disetujui dalam kontraknya dengan Thailand, gas alam ini akan mampu memberikan sumbangan devisa sebesar 2 milyar USD per tahun kepada Myanmar, dan akan mampu terus menyumbang sebesar jumlah tersebut selama 40 tahun lebih.

Sekarang ini telah ada 9 perusahaan asing yang telah berhasil menandatangani kontrak pertambangan minyak di wilayah darat Myanmar, sementara di laut lepas, juga ada 9 peru-sahaan asing lainnya termasuk di antaranya Total SA Prancis, Petronas Malaysia, PTT Thailand, Dayu Group dari Korea Selatan, serta Tiongkok Petroleum yang telah mengeksplorasi dan melakukan penambangan di 29 titik tambang Myanmar.

Meskipun Amerika dan Eropa telah melakukan embargo ekonomi terhadap Myanmar, namun tambang milik Total SA di daerah Adanna masih terus berlangsung, Sheflon, perusahaan Amerika yang telah membeli Unic, juga memiliki 28 persen saham atas tambang tersebut.

Kedua perusahaan tersebut berusaha keras membela diri atas investasinya di Myanmar, pimpinan ter-tinggi bagian General Affair dari perusahaan Total SA, Lassar, mengeluarkan pernyataan minggu ini, “Atas permintaan agar perusahaan kami mencabut investasi kami di Myanmar, kami beranggapan bahwa tindakan itu sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah di Myanmar.” Juru bicara pers dari Sheflon untuk wilayah Asia, Hu Ge Shen, mengatakan, dalam rencana investasinya di Adanna, yang menjadi perhatian utama dari Sheflon adalah “memenuhi janji jangka panjang terhadap jutaan penduduk di wilayah itu atas kebutuhan akan sumber daya alam.”

Sementara dari pihak Tiongkok, analis dari pusat riset “Chadam Research Center” London mengatakan, Tiongkok berharap untuk bersikap netral, tidak ingin merusak hubungannya dengan pihak Myanmar. Namun yang paling menjadi perhatian Tiongkok sebenarnya adalah posisi militer Myanmar, sebab Beijing berencana membangun pipa pengiriman dari Myanmar ke Tiongkok, yang akan digunakannya untuk mengirimkan minyak yang dibeli dari negara–negara Timur Tengah.

Tiongkok mempertimbangkan perseteruan dengan Amerika di masa yang akan datang, mereka khawatir bahwa Angkatan Laut Amerika akan memblokade Selat Malaka, sedangkan minyak bumi yang dibeli Tiongkok dari Timur Tengah selalu dikirim melalui Selat Malaka.

Manager Public Relation perusahaan minyak Thailand PTT, Jayantte, menyatakan sikap sebagai pedagang dari sisi bisnis. Ia mengatakan, “Saya tidak beranggapan bahwa pergolakan akan dapat menyebabkan pengaruh apa pun terhadap masa depan, kami telah menandatangani persetujuan de-ngan pihak pemerintah, oleh karena itu, siapa pun yang memegang tampuk pemerintahan tidaklah penting.” (The Epoch Times)

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: