Pernikahan tanpa dasar cinta tidak dapat dijalankan

Beberapa waktu lalu di sebuah situs net, sempat saya baca sebuah lelucon anak-anak. Seorang gadis kecil pada ibunya: “bu, mengapa pengantin wanitanya mengenakan busana putih?”

Sang ibu menjawab : “sebab putih adalah warna yang mewakili kebahagiaan! hari ini adalah hari paling bahagia bagi pengantin wanita seumur hidupnya.”

Gadis cilik itu merenung sejenak, lalu bertanya lagi: “tapi kenapa busana pengantin pria itu warnanya hitam?”

Mungkin setelah membaca lelucon ini, cukup banyak hati laki-laki yang sudah menikah memahaminya!
“menikah dan cinta sejati merupakan dua hal yang berbeda.” Begitu yang pernah saya dengar dari banyak  kaum laki-laki.

Ada sebuah cerita yang merupakan bukti lain dari pendapat demikian.

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, “apa itu cinta?” Sebelum menjawab, gurunya meminta Plato memetik sebulir gandum dulu di ladang gandum. Tapi hanya boleh memetik sekali dan berjalan ke depan, tidak boleh menoleh.

Plato lalu mengikuti petunjuk gurunya, namun akhirnya ia keluar dari ladang gandum tanpa hasil. Sang guru bertanya kenapa tidak berhasil memetik bulir gandum itu, Plato pun berkata: “sebab hanya boleh memetik sekali, tidak boleh menoleh. Meski mendapati bulir yang besar dan kuning keemasan, namun karena berpikir mungkin ada yang lebih baik lagi di depan, karena itu  tidak memetiknya. Ketika berjalan ke depan, saya melihat selalu tidak lebih bagus dari sebelumnya….ternyata bulir gandum yang paling besar dan kuning keemasan di ladang itu, telah di sia-siakannya, sehingga akibatnya sebulir gandum apa pun tidak terpetik.”

Sang guru berkata : “inilah cinta.”

Suatu hari sesudah itu, Plato bertanya pada gurunya, “apa itu pernikahan?” lalu sang guru menyuruhnya pergi dulu ke hutan, menebang sebuah pohon paling tinggi dan besar serta lebat di antara semua pohon. Dan sama seperti di atas hanya boleh menebang sekali, juga hanya boleh berjalan ke depan dan tidak boleh menoleh.

”Plato lalu melakukan sesuai dengan petunjuk gurunya. Kali ini, ia membawa pulang sebatang pohon biasa, tidak lebat tapi lumayan bagus. Guru bertanya padanya, kenapa membawa pohon yang biasa-biasa saja? Plato berkata: “dengan adanya pengalaman tempo hari, dimana ketika setengah perjalanan di hutan masih tidak ada hasil, saya melihat pohon ini dan lumayan bagus kemudian saya tebang, agar jangan sampai terlewatkan.”

” Sang guru lalu berkata: “inilah pernikahan.”

Banyak di antara mereka yang punya pandangan bahwa “perkawinan dan cinta sejati merupakan dua hal yang sama sekali berbeda”. Karena tidak sedikit orang yang menikah dengan seorang pasangan yang tidak mencintainya dengan tulus, maka terjadilah angka perceraian yang begitu tinggi dan keluarga yang berantakan.

“Jika tidak cinta, lalu bagaimana keduanya menghadapi tantangan hidup yang berat? dan jika tidak saling mencintai, dari mana datangnya kesabaran dan toleransi? Jika tidak cinta, tapi hidup dalam satu atap, dan tidur di ranjang yang sama setiap hari, bukankah ini suatu siksaan batin?”

Hidup bersama tapi bermimpi lain sudah pasti merupakan suatu siksaan. Bahkan ada yang merasa perkawinan tidak ada hubungannya dengan cinta, cukup banyak laki-laki yang menganggap bahwa hakekat perkawinan hanya untuk meneruskan keturunan yang sah.

Bukan saja kaum jomblo, bahkan jumlah kaum yang takut kawin juga terus meningkat. Dan mereka yang ingin menikah tapi trauma dengan perkawinan sebelumnya juga semakin banyak. Jika anda menguatkan nilai perkawinan, dan tengah berencana melangkah ke tirai merah perkawinan, apakah pasangan yang dipilih itu adalah teman hidup yang jujur, dapat dipercaya, dan pendapatan yang stabil, lebih baik anda memfokuskan diri meneliti apa sebenarnya perkawinan itu di mata teman hidup anda?

Saya bukan kaum idealis, juga tidak terlalu naif, justru karena mendengar terlalu banyak pemikiran dari sisi negatif terhadap perkawinan, juga terlalu banyak melihat akibat buruk yang disebabkan pikiran negatif, barulah saya kemukakan nasihat ini, “jika tidak cinta jangan sekali-kali menikah”.

Bukan setiap perkawinan berasal dari keinginan membuktikan cinta, didalamnya juga bercampur dengan berbagai faktor. Sudah sewajarnya perkawinan itu ada kemungkinan untuk melahirkan anak (keturunan), kepentingan ekonomi dan sebagainya, bahkan ada suami istri yang terus terang mengatakan “nikmati keinginan masing-masing saja”. Namun kehidupan suami istri dapat membohongi orang lain, tapi tidak dapat menipu diri sendiri. Jika tidak bisa seperti sepasang sumpit, berat sepikul ringan sejinjing, mengecap pahit dan manis bersama, tapi hanya sebuah nama saja dalam kolom pasangan di KTP, adalah perkawinan yang tidak tahan ujian apa pun.

Ada seorang rekan laki-laki, dimana demi untuk merawat istrinya yang mengidap penyakit lupus erythema (kemerahan pada kulit), tiba-tiba memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai PNS eksekutif. Menjadi pekerja freelance dan mulai dari awal, agar memudahkan dirinya menemani sang istri ke rumah sakit untuk mencuci ginjal setiap senen, rabu dan Jum’at.

Setiap perkawinan perlu mengalami ujian, jika tidak menggenggam erat satu sama lain, pasti tidak akan dapat menerjangnya. Di zaman ini, perkawinan tanpa dasar cinta, pasti akan tragis, juga sulit sekali bisa menjalaninya hingga kakek-nenek!

”Perkawinan mungkin agak kurang romantis, namun justru karena belajar memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani pasangan, sehingga membuat hidup lebih padat, sempurna. Sekali lagi saya ingatkan: “Jangan menikah, jika tidak cinta!”  (Sumber Dajiyuan)

dikutip dari : <<Ternyata cinta itu tidak perlu begitu berduka>>.

One Response

  1. artikel yang meanrik. tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: