Pendidikan Adalah Sebutir Benih

Orang barat itu bernama “Lu Qi <路乞>”, 65 tahun, orang Amerika, seorang doktor dalam bidang hukum. Lu Qi semenjak kecil merindukan Tiongkok, tahun 1984 pertama kali datang ke Tiongkok, sejak saat itu ia merasa sangat tertarik dengan kebudayaan Tionghoa dan mengunjungi Tiongkok sebanyak 50 kali lebih. Kemudian, ia tiba di kota Huang Shi – propinsi Hubei dan menikah dengan seorang pakar kaligrafi wanita.

Lu Qi adalah seorang sinolog (ahli tentang Tiongkok), bahasa Mandarin dan dialek Kanton ia kuasai dengan sangat baik. Lu Qi menamakan dirinya sendiri dengan nama Tionghua, Lu Qi, yang bermakna: “Pengemis Jalanan”. Ia berkata: “Orang Tionghua merendahkan pengemis, tetapi saya kira yang dilakukan pengemis dengan memunguti sampah adalah pekerjaan mencintai lingkungan, sangat mulia dan pekerjaan yang sangat penting.” Tentu saja, pengemis bukanlah profesi seorang Lu Qi. Sebelum ia pensiun, ia bekerja dalam bidang hukum, di atas kartu namanya terkini tertera title “Doktor ilmu hukum”.

Cerita Lu Qi memungut sampah, ketika tinggal di kota Huang Shi, ia memungut di Huang Shi, sesudah pindah ke Wu Han, ia juga memungut di jalan raya dan gang-gang di Wuhan, ia memungut sampah bahkan tak memerlukan sarung tangan, tak peduli sampah tersebut bagaimana kotornya, pada dipungutinya sendiri, terkadang sampah yang terpungut tiada tempat membuangnya (tak terdapat bak sampah di sekitarnya), ia akan mengantongi sampah tersebut di dalam saku pakaiannya.

Lu Qi memungut sampah tentu saja bukan untuk mendapatkan uang melainkan demi lingkungan yang asri, ia adalah pengikut pelestari lingkungan hidup, ia tak mentolerir sampah di sekeliling dirinya, menjumpai sampah tergeletak ia tentu akan memungutnya, selamanya dalam memunguti sampah ia tidak ada kata-kata sungkan, ia seringkali di bawah sorotan mata publik memungut sampah, acap kali melihat orang lain membuang sampah sembarangan yang kemudian akan dipungut dan dibuangnya ke bak sampah.

Sang istri pernah protes keras menentang ia memungut sampah, selain karena kotor, juga karena banyak orang tidak memahami, dikiranya dengan itu ia ingin cari nama, atau merasakan ia merendahkan Tiongkok. Lu Qi berkata: “Saya memungut sampah, bukan karena demi siapapun dan agar suatu departemen tertentu kehilangan muka, juga bukan menganggap Tiongkok adalah bak sampah, melainkan justru karena saya mencintai Tiongkok, saya berpendapat Tiongkok adalah negeri yang indah.”

Ia pernah menguntit di belakang seorang wanita yang sambil makan jeruk sambil tangan satunya sibuk membuangi kulit jeruk, ia tidak menghardiknya, hanya menngikutinya dari belakang, dia membuang sepotong maka ia memungut sepotong, hingga orang disekitarnya pada memeloti wanita tersebut, si wanita merasa ada sesuatu yang tidak beres, segera membalikkan tubuhnya dan terlihat seorang bule memegang kulit jeruk yang dibuanginya sepanjang perjalanannya tadi, seketika mukanya memerah, dengan segera berkelebat menyingkir………..

Lu Qi berkata: “Saya tidak memberi pelajaran, saya hanya mendidik orang. Saya memungut sampah di hadapan si pembuang sampah, itu adalah sejenis pendidikan. ”

Dengan demikian ia telah mempengaruhi sang istri, ia membuat haru orang lewat, ia telah menggugah banyak orang – seperti pada suatu hari di bulan November, seribuan lebih mahasiswa berasal dari universitas Wu Han, universitas kebangsaan Zhong Nan beserta 16 SMU, bersama-sama dengan suami isteri doctor Lu Qi menyusuri jalanan kota Wu Han memunguti sampah, menasehati perilaku tak beradab: Sembarangan membuang maupun meludah dari para pejalan kaki, mereka dengan pelaksanaan nyata memkampanyekan pelestarian lingkungan kepada warga kota.

Pada layar kaca muncul para mahasiswa membentangkan spanduk besar menyelenggarakan acara pemotivasian di taman, saya sekonyong-konyong merasa agak antipati dan menggerutu dengan kalimat: “Kenapa setelah tiba di negeri kita lantas menjadi Make-up <做秀>?”

Perkataan baru saja terucap, terlihat Lu Qi dengan tersenyum-simpul berdiri di depan sekelompok siswa. Teringat perkataan Lu Qi: “Saya mengharap gerakan kali ini bukan Make-up <做秀>, melainkan adalah Mempercantik <錦繡>, berilah saya peluang bersama-sama dengan saudara-saudara saya Mempercantik kota Wu Han.” Tahu-tahu merasakan betapa kerdil dan redupnya diri ini: Berpuas diri dengan hanya mengopeni diri sendiri, sangat jarang mempedulikan urusan dunia; berasosiasi negatif, banyak menggerutu dan kurang tindakan; harapan selalu saja digantungkan kepada orang lain, banyak pemikiran-minim akal…….oleh karenanya saya seringkali tidak merasa gembira, juga terkadang sulit membawa kegembiraan bagi orang lain!

Pada layar kaca Lu Qi masih saja tersenyum simpul, menyapa sambil tersenyum kepada orang yang membuang sampah, menjabat tangan orang yang memungut sampah sembari tersenyum, dengan tersenyum memberi uang receh kepada sang pengemis yang menjulurkan tangannya, dengan tersenyum pergi ke pusat pelatihan atlit mengajar bahasa Inggris dengan cuma-cuma, dengan tersenyum ia berkata kepada wartawan: Membantu orang adalah cikal bakal kegembiraan………

Akir kata, Lu Qi mengatakan sebuah kalimat yang sering disampaikannya kepada para siswa:
Bisakah anda menemukan ada berapa butir benih di dalam buah apel? Tentu saja bisa.
Bisakah anda mengetahui di dalam benih terdapat berapa apel?
Sampai dengan hari ini, saya seolah masih saja mendengar orang tua berusia 60 tahunan tersebut berkata kepada saya: Pendidikan adalah sebutir benih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: