Harta, Antara Nikmat dan Fitnah

Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Harta, tentu banyak yang menginginkannya. Beragam cara pun dilakukan untuk memperolehnya. Halal haram, bagi sebagian orang, adalah nomor kesekian. Yang terpenting adalah kebutuhan terpenuhi dan gaya hidup terpuaskan. Jika sudah seperti ini, harta tak lagi menjadi rahmat, namun menjadi celah turunnya azab.

Harta merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikaruniakan kepada umat manusia. Keindahannya demikian memesona. Pernak-perniknya pun teramat menggoda. Ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Al-Jannah).” (Ali ‘Imran: 14)
Lebih dari itu, harta adalah sebuah realita yang melingkupi kehidupan umat manusia. ‘Sejarah’-nya yang tua, senantiasa eksis mengawal peradaban umat manusia di setiap generasi dan masa. Jati dirinya yang berbasis fitnah, telah banyak melahirkan berbagai gonjang-ganjing kehidupan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, tatkala Dia mengingatkan para hamba-Nya akan realita tersebut. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya harta dan anak-anak kalian itu (sebagai) fitnah, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfaal: 28)
Jauh-jauh hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mewanti-wanti umatnya dari gemerlapnya harta dengan segala fitnahnya yang menghempaskan. Sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا، كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam. (Disebabkan fitnah tersebut) di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir, di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no. 118, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Demikianlah wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tentang harta dan segala fitnahnya. Allahumma sallim sallim…(Ya Allah, selamatkanlah kami semua darinya).

Ketertarikan Hati Manusia Terhadap Harta
Manusia sendiri merupakan makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berjati diri amat dzalim (zhalum) dan amat bodoh (jahul). Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam mensifatinya, sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً

“Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
Sontak, tatkala harta menghampiri, ketertarikan hati pun tak bisa dimungkiri lagi. Mereka benar-benar amat mencintainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al-Fajr: 20)
Bahkan, saking cintanya terhadap harta akhirnya ia menjadi bakhil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil dikarenakan kecintaannya yang sangat kuat kepada harta.” (Al-‘Adiyat: 8)
Jika demikian kondisinya, maka tak mengherankan bila (kebanyakan) manusia teramat berambisi mengumpulkan dan menumpuknya. Sungguh benar apa yang disabdakan dan diperingatkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثََالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ، وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Kalaulah anak Adam (manusia) telah memiliki dua lembah dari harta, niscaya masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya no. 6436, dari shahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Para pembaca yang mulia, ketika hati anak manusia amat cinta kepada harta bahkan berambisi untuk mengumpulkan dan menumpuknya, maka sudah barang tentu harta tersebut dapat melalaikannya dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (dzikrullah). Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui keadaan para hamba-Nya telah memberitakan hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Telah melalaikan kalian perbuatan berbanyak-banyakan. Hingga kalian masuk ke liang kubur.” (At-Takatsur: 1-2)
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Telah melalaikan kalian (dari ketaatan, pen.) perbuatan berbanyak-banyakan dalam hal harta dan anak.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Maka dari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan orang-orang yang beriman dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِاللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian (dapat) memalingkan kalian dari dzikrullah. Barangsiapa berbuat demikian maka merekalah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Harta Dapat Menjadikan Seseorang Sombong
Kondisi serba berkecukupan alias kaya harta tak jarang membuat seseorang lupa daratan, melampaui batas, dan sombong. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَلاَّ إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Manakala dia melihat dirinya serba berkecukupan.” (Al-‘Alaq: 6-7)
Mungkin di antara anda ada yang bertanya: “Adakah di dalam Al-Qur`an kisah umat terdahulu yang lupa daratan, melampaui batas dan sombong dikarenakan harta yang dimilikinya, agar kita bisa mengambil pelajaran (ibrah) darinya?” Maka jawabnya adalah: “Ada.”
Di antaranya adalah Qarun, seorang kaya raya dari Bani Israil (anak paman Nabi Musa ‘alaihissalam) yang telah melampaui batas dan sombong. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوْءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لاَ تَفْرَحْ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ. وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ. قَالَ إِنَّمَا أُوتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلاَ يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ. فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِيْنَتِهِ قَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُوْنُ إِنَّهُ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ. وَقَالَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلاَ يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُوْنَ. فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُوْنَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ. وَأَصْبَحَ الَّذِيْنَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِاْلأَمْسِ يَقُوْلُوْنَ وَيْكَأَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلاَ أَنْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُوْنَ. تِلْكَ الدَّارُ اْلآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لاَ يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya Qarun termasuk dari kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah karuniakan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah engkau terlalu bangga diri (sombong), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri (sombong). Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’ Qarun pun menjawab: ‘ Sesungguhnya aku dikaruniai harta tersebut dikarenakan ilmu (kepandaian)-ku’. Tidakkah Qarun tahu sungguh Allah telah membinasakan umat-umat sebelum dia yang jauh lebih kuat darinya dan lebih banyak dalam mengumpulkan harta? Dan tak perlu dipertanyakan lagi orang-orang jahat itu tentang dosa-dosa mereka. Maka (suatu hari) tampillah Qarun di tengah-tengah kaumnya dengan segala kemegahannya, lalu berkatalah orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia: ‘Duhai kiranya kami dikaruniai (harta) seperti Qarun, sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.’ Adapun orang-orang yang berilmu, mereka mengatakan: ‘Celakalah kalian, sesungguhnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, namun tidaklah pahala itu diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar.’ Akhirnya Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada satu golongan pun yang dapat menolongnya dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah). Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 76-83)
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan (dalam ayat-ayat tersebut, pen.) bahwa Qarun telah diberi perbendaharaan harta yang amat banyak hingga ia lupa diri. Dan semua yang dimilikinya itu ternyata tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana pula yang telah dialami (sebelumnya, pen.) oleh Fir’aun.” (Tafsir Al-Qurthubi)
Berikutnya adalah kisah tentang musuh-musuh para rasul secara umum yang melampaui batas lagi sombong disebabkan harta yang dimilikinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيْرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَفُوْهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُوْنَ. وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالاً وَأَوْلاَدًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ

“Dan Kami tidaklah mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun (Rasul) melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari segala apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’. Mereka juga berkata: ‘Kami mempunyai harta dan anak yang lebih banyak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab’.” (Saba’: 34-37)
Kisah berikutnya adalah tentang para pembesar Bani Israil yang memprotes Nabi mereka atas diangkatnya Thalut sebagai raja mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian’. Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun bukan orang yang kaya?’ (Nabi mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas serta tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
Para pembaca, demikianlah beberapa fenomena mengerikan tentang harta dan perannya yang amat besar dalam mengantarkan anak manusia kepada kesombongan. Akibatnya, kebenaran dengan ‘enteng’ ditolaknya dan orang-orang mulia pun direndahkannya. Padahal seluruh harta dan kekayaan yang dimilikinya itu tidak dapat menyelamatkannya dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masih ingatkah dengan kisah Qarun, yang harta dan seluruh kekayaannya tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bahkan ia dan seluruh kekayaannya dibenamkan ke dalam bumi?!
Hal senada telah Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan perihal Abu Lahab, paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kafir lagi sombong:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ. مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan segala apa yang ia usahakan (dari azab Allah).” (Al-Masad: 1-2)
Maka dari itu, tidaklah pantas bagi seorang muslim yang diberi karunia harta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berbangga diri (sombong) dengan hartanya. Bukankah harta itu merupakan titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu (hari kiamat) tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan dengannya).” (At-Takatsur: 8)

Refleksi tentang Pendapatan Ekonomi dan Penyalurannya
Sekedar potret betapa fitnah harta telah mencengkram dengan kuat umat manusia di jaman ini, adalah bersarangnya slogan hidup ‘time is money’ (waktu adalah uang) pada otak kebanyakan orang, termasuk umat Islam. Waktu pun dihabiskan untuk mengais harta sehingga tak ada waktu untuk keluarga, interaksi sosial, apalagi mengkaji ilmu agama. Ini diperparah dengan munculnya argumentasi dangkal; ‘mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal’. Padahal semua harta yang dimiliki ini kelak akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat; Dari manakah harta itu diperoleh dan untuk apakah harta itu disalurkan?
Fenomena di atas akan kian nyata bila mencermati berbagai sarana untuk mendapatkan sumber ekonomi yang tak lagi memperhatikan norma-norma syariat, halal ataupun haram. Praktik riba merajalela, mulai dari sistem yang paling sederhana hingga yang tercanggih sekalipun. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ. يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ. إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُوْنَ وَلاَ تُظْلَمُوْنَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri (ketika dibangkitkan dari kuburnya, pen.) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, disebabkan mereka (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Allah, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), maka urusannya (terserah) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni An-Naar; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan Allah tidak menyukai orang yang tetap di atas kekafiran dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, merekalah orang-orang yang mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tiada kekhawatiran pada diri mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang yang beriman. Jika kalian masih keberatan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok (modal) harta; kalian tidaklah menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 275-279)
Persaingan usaha pun makin tak sehat. Jegal sana jegal sini, suap sana suap sini, hingga nyawa siap menjadi taruhannya. Tak mengherankan bila kehidupan bisnis dan industri saat ini banyak diwarnai kasus-kasus kelabu yang tidak selaras dengan fitrah suci dan norma-norma agama yang murni. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku di atas asas saling meridhai di antara kalian.” (An-Nisa`: 29)
Praktik penipuan kerap kali dilakukan dengan cara-cara sistematis. Bahkan untuk meraup harta orang lain pun tak jarang ditempuh jalur hukum, dalam kondisi pelakunya sadar bahwa ia sedang berbuat aniaya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيْقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِاْلإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)
Perjudian dengan beragam jenisnya, menjadi jalan pintas yang paling digemari dalam meraup ‘pendapatan’. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan para hamba-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. إِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan shalat; maka berhentilah kalian (dari perbuatan itu).” (Al-Maidah: 90-91)
Kasus-kasus pencurian, perampokan, hingga korupsi tak kalah banyaknya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berwasiat kepada sekalian umat manusia:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي اْلأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 168)
Sementara itu jika kita mencermati keadaan orang-orang yang diberi karunia harta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka beragam pula modelnya. Ada yang menghambur-hamburkan hartanya dengan boros (di jalan yang tidak jelas), dan ada pula yang bakhil. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا. وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلاً مَيْسُوْرًا. وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَحْسُوْرًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Rabbnya. Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang pantas. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (bakhil, pen.) dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya sehingga kamu termasuk orang yang tercela lagi menyesal.” (Al-Isra`: 26-29)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tatkala mengisahkan ucapan (nasihat) kaum Nabi Musa terhadap Qarun:

وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْْْلآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلاَتَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 77)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Pergunakanlah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah karuniakan kepadamu dari harta yang banyak dan nikmat yang tak terhingga itu, untuk ketaatan kepada Rabbmu dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan beragam amal shalih, yang diharapkan dengannya mendapatkan pahala baik di dunia dan di akhirat. (Janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan bagimu berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan menikahi wanita. Merupakan suatu keharusan bagimu untuk menunaikan hak Rabbmu, hak dirimu, keluargamu, dan orang-orang yang mengunjungimu. Tunaikanlah haknya masing-masing. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah kamu berambisi dengan kekayaan yang ada untuk berbuat kerusakan di (muka) bumi dan kejahatan kepada sesama. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Tafsir Ibnu Katsir juz 3, hal. 385)
Maka dari itu, bila anda termasuk orang yang mendapatkan karunia harta dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadikanlah harta anda sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tunaikanlah segala hak yang berkaitan dengan harta anda. Keluarkanlah zakat, bershadaqahlah kepada fakir miskin, santunilah anak yatim, bantulah orang-orang yang sedang kesusahan/ ditimpa musibah, dan lain sebagainya. Jangan sampai harta yang anda miliki menjadi penghalang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebagai penyebab untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Jauhkanlah diri anda dari perbuatan menghambur-hamburkan harta dengan jalan pemborosan, sebagaimana pula harus menjauhkan diri dari sifat bakhil.

Penutup
Demikianlah gambaran harta yang senantiasa mengitari hidup manusia. Tentunya kita semua berharap agar termasuk hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang istiqamah di atas jalan-Nya. Dengan tidak buta mata (menempuh cara-cara yang haram) ketika diuji dengan keterbatasan rizki dan tidak lalai (untuk menunaikan hak) ketika dikaruniai keluasan rizki. Terlebih di masa sekarang ini yang banyak dipenuhi serpihan fitnah syahwat dan fitnah syubhat.
“Ya Allah…janganlah Engkau jadikan harta (dunia) ini sebagai sesuatu yang segala-galanya dalam kehidupan kami, dan jangan pula Engkau jadikan ia sebagai puncak tujuan dari ilmu yang kami miliki.”
Amiin ya Rabbal ‘Alamin….

One Response

  1. ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT { IKDA } ” MUSTIKA IMAN ” { Dalam buku di bawah ini tidak di lengkapi Do’a Keagungan / Pengisian. Hal ini memang sengaja belum kami munculkan mengingat pembaca internet adalah khalayak umum. Kami tidak mau ada hal – hal yang tidak di inginkan terjadi. Untuk menghindari terjadinya salah pengamalan ilmu ” MUSTIKA IMAN ” } Bagi anda yang berniat unyuk ikut mempelajari ilmu ini silahkan segera menghubungi kami. LAMPIRAN PANCASILA : 1. Ketuhanan yang Mahaesa. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. UUD 1945, pasal 29 : 1. Negara berdasarkan atas ketuhanan yang mahaesa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. KATA PENGANTAR Atas berkat dan rahmat Allah Yang Mahakuasa akhirnya saya dapat menyelesaikan penulisan buku ini dan manyajikannya kepada para pembaca untuk diresapi isi dan makna yang terkandung di dalamnya. Maksud dan tujuan penulisan buku ini sejalan dengan Pancasila sebagai dasar Negara kita Republik Indonesia dan juga UUD 1945 (khususnya pasal 29), yaitu agar para pembaca dapat mengetahui keadaan Allah yang sebenarnya untuk menuju kepada kesempurnaan iman, dan mengajak agar kita selalu ingat kepada Allah, di mana pun dan kapan pun. Jika kita selalu ingat kepada Allah, niscaya Allah pun akan selalu ingat kepada kita, sehingga segala berkah dan rahmatNya akan selalu dilimpahkan kepada kita. Akhir kata, semoga terbitnya buku yang sederhana ini dapat membantu tercapainya kesempurnaan iman kita agar kita selalu diridhoi Allah SWT di dunia maupun di akhirat. Amin ya Allah ya robbal alamin. Jakarta, 17 Mei 1987 Wassalam, H. Moh. Yusuf Suparta Penuntun Besar IKDA DAFTAR ISI LAMPIRAN………………………………………………….ii KATA PENGANTAR……………………………………………………… iii DAFTAR ISI…………………………………………………………………. iv PENDAHULUAN…………………………………………………………. 1 ILHAM-ILHAM DARI ALLAH…………………………………………… 3 ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT…………………………… 10 KEGUNAAN SETIAP PELAJARAN…………………………………….. 15 AMALAN-AMALAN / DOA-DOA YANG WAJIB DIAMALKAN SETIAP MURID…………………………………………………………… 19 LAPORAN HASIL GUNA PELAJARAN ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT………………………………………………………… 24 PENUTUP…………………………………………………………………. 36 PENDAHULUAN Dengan nama Allah yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, saya memulai penulisan buku ini pada malam Senin tanggal 17 Mei 1987 atau tanggal 19 Ramadhan 1407 H di rumah saya di Kampung Sumur Selatan Klender, Jakarta Timur. Sebagaimana telah saya kemukakan sebelumnya, penulisan buku ini saya maksudnya untuk menghimbau dan mengajak para pembaca untuk menuju dan mencapai suatu kesempurnaan iman, sekaligus untuk mengisi, menghayati dan mengamalkan dasar Negara kita yaitu Pancasila, yang juga merupakan falsafah hidup bagsa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, kehidupan beragama di Negara kita berkembang dengan baik dan dijamin oleh UUD 1945. pemerintah pun mendukung perkembangan kehidupan beragama itu dengan sepenuhnya. Sejalan dengan perkembangan kehidupan beragama yang semakin baik itu, maka makin banyak orang yang mengaku dirinya beriman kepada Tuhan YME. Mereka mengakui bahwa Allah itu Mahakuasa dan Mahasegala-galanya, mereka mengakui bahwa mereka itu diciptakan, digerakkan, diberi nikmat dan rejeki oleh Allah. Tetapi sayangnya pengakuan seperti itu kebanyakan hanyalah pengakuan di mulut saja atau boleh dikatakan sebagai pengakuan yang bohong belaka, karena tidak diikuti oleh tindakan yang mencerminkan iman kepada Allah. Mereka mengaku beriman kepada Allah, namun masih saja percaya, bahkan masih memuja dan menyembah hal-hal selain Allah seperti misalnya benda-benda keramat, roh-roh orang yang sudah mati, mahluk-mahluk halus dan lain sebagainya. Mereka juga masih saja berlindung kepada kepada keris-keris, batu-batu jimat dan lain-lain. Padahal, itu berarti mereka menduakan Tuhan atau menyekutukan Tuhan dengan yang lainnya. Hal seperti itu terjadi karena kebanyakan orang belum mengenal Tuhan dengan sebenarnya. Sedangkan untuk mengenal Tuhan, caranya tidaklah semudah seperti apa yang dibayangkan orang. Bagi saya sendiri, proses untuk mencapai tingkatan mengenal Tuhan itu berlangsung cukup lama, yaitu dimulai sejak saya berusia kira-kira 14 tahun sampai dengan umur 30 tahun, jadi kurang lebih memakan waktu 16 tahun lamanya. Itu semua harus disertai dengan kemauan yang kuat dan teguh dan juga penggunaan akal sehat yang sebaik-baiknya, tidak cukup hanya dengan cara bersembahyang atau beribadat biasa seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain. Banyak orang yang melaksanakan ibadat (shalat / sembahyang, puasa dsb) hanya karena ingin dipuji oleh masyarakat atau dengan kata lain hanya sebagai kedok belaka (munafik). Juga ada yang hanya karena ikut-ikutan agar tidak dikatakan kafir, sedangkan mereka sendiri tidak memahami apa makna dari peribadatan mereka itu. Mungkin orang beranggapan bahwa cara beribadat atau sujud seperti yang biasa mereka lakukan itu sudah benar dan baik, atau setidak-tidaknya demikianlah penilaian orang lain terhadap ibadat mereka. Padahal jika hal tersebut dinilai oleh Allah sendiri, ibadat mereka itu sia-sia saja dan tiada artinya sama sekali. Maka dari itu saya katakana bahwa penulisan buku ini saya maksudkan untuk mengajak atau menghimbau para pembaca untuk menuju dan sekaligus mencapai kesempurnaan iman. Buku pelajaran Ilmu Kesempurnaan Dunia Akhirat ini merupakan suatu tuntunan agar kita semua dapat mengenal Allah dengan sebenar-benarnya sehingga ibadat yang kita lakukan diterima oleh Allah (tidak sia-sia belaka) dan kita mendapat ridho Allah dari dunia sampai akhirat. Pendek kata, dalam buku ini saya tuliskan dengan sesederhana dan sesingkat mungkin cara-cara untuk mencapai tujuan di atas. ILHAM-ILHAM DARI ALLAH Sejak kecil, saya selalu berangan-angan untuk dapat mengenal Tuhan. Saya mempunyai keinginan yang besar untuk dapat melakukan ibadat dan sujud yang sempurna kepada Allah, bukan ibadat yang hanya ikut-ikutan tanpa mengerti arti dan maknanya, bukan pula yang hanya untuk berpura-pura (sebagai kedok) di masyarakat. Tanpa pernah berputus asa, saya terus menerus berusaha untuk menemukan cara beribadat dan sujud yang sempurna itu, hingga akhirnya membuahkan hasil berupa ilham-ilham yang berasal dari Allah sendiri. 1. Ilham Pertama Ketika saya berumur kira-kira 15 tahun, terjadi pengungsian dari kota Bandung ke Majalaya akibat serangan balatentara Jepang terhadap Belanda. Dalam pengungsian itu, saya tinggal di rumah paman di Kampung Cibuntu, Majalaya. Ketika itu bulan Februari tahun 1942, saya sedang berada di rumah paman saya, dan tidak pergi kemana-mana. Dalam keadaan antara tidur dan tidak, tiba-tiba saya melihat seolah-olah tanah tempat saya duduk membelah, dan saya masuk kedalamnya. Kemudian, detik itu juga saya telah berada di padang pasir Tanah Suci Mekkah. Saya bertemu dengan seorang lelaki tampan yang tampak bercahaya. Ia mengenakan jubah berwarna kehijauan yang tampak berkilau-kilauan. Ketika saya bertanya-tanya dalam hati, siapakah lelaki itu, tiba-tiba terdengar suara gaib (tidak kelihatan wujudnya) berkata, “itu nabimu Muhammad SAW.” Maka saya pun segera menyampaikan salam kepada beliau, “Assalamualaikum ya Rasulullah.” Beliau menjawab, “Wa’alaikum salam.” Setelah itu beliau memberi berbagai petunjuk tentang di mana adanya Tuhan, dan bagaimana cara bersujud atau beribadat yang sempurna kepadaNya. Setelah selesai, saya pun kembali ke tempat semula, yaitu rumah paman saya. 2. Ilham Kedua Ilham kedua saya terima pada akhir tahun 1945. waktu itu saya ikut berjuang dan menjadi anggata Tentara Hizbullah Batalyon I kota Bandung di bawah pimpinan Dan Yon Bapak Husinsyah. Ilham itu saya terima pada suatu malam ketika saya sedang tidur di sebuah mesjid di daerah Gedebage, Ujung Berung, Bandung Timur. Ketika itu, dalam keadaan antara tidur dan tidak saya berperasaan seolah-olah mesjid tersebut tidak beratap sama sekali. Saya dapat melihat jelas bulan sabit di langit yang sangat bersih, tidak berawan sedikitpun ; dan di dekat bulan sabit itu terlihat tulisan Arab yang berbunyi “Ya Ibrahima Alaihi Salam”. Ketika saya sedang memikirkan apa hubungan antara bulan sabit dengan tulisan Arab tersebut, tiba-tiba terdengar suara gaib yang berkata, “Caramu mencari Aku seperti halnya Nabi Ibrahim dahulu, tidak mudah percaya begitu saja.” Kemudian saya bertanya, “Siapakah yang berkata ini ?” Lalu terdengar jawaban, “Aku Allah, Tuhanmu.” “Di manakah Engkau berada, ya Allah ?” Lalu dijawabnya pula, “Aku ada bersamamu, di mana kamu ada Aku ada.” 3. Ilham Ketiga (Terakhir) Ilham yang terakhir saya terima pada awal tahun 1956. Pada waktu itu saya tinggal di Kampung Warung Contong, Cimahi, Bandung. Pada suatu malam, dalam keadaan antara tidur dan tidak, saya dibawa atau di mi’rajkan ke padang pasir Tanah Suci Mekkah. Berbeda dengan ketika saya mendapat ilham pertama, maka pada saat menerima ilham terakhir ini, saya tidak lagi merasakan hal-hal yang aneh (misalnya bumi terbelah, dsb.), melainkan langsung saja berada di Mekkah. Di sana Allah memperlihatkan kepada saya orang-orang yang sedang berkumpul di padang pasir, berpakaian serbaputih. Mereka semua tampak berterbangan ke atas dan kemudian turun kembali, seperti halnya batu yang jatuh setelah kita lemparkan. Jadi, terbang mereka tidak sampai ke langit. Kemudian seorang wanita cantik memberikan sebuah jubah yang sangat indah pada saya dan menyuruh saya untuk mengenakannya. Setelah jubah itu saya kenakan, terdengar suara gaib yang memerintahkan saya untuk menengok ke atas langit. Di langit itu tampak sebuah lubang sebesar nyiru atau tampah., dan saya diterbangkan lurus ke atas dengan kecepatan yang luar biasa memasuki lubang tersebut. Saya sampai di suatu tempat yang luas, indah, nyaman dan harum semerbak. Saya lalu berpikir, mengapa orang-orang lain yang saya lihat sebelumnya tidak ada yang sampai ke tempat tersebut. Seketika itu juga terdengarlah lagi suara gaib yang mengatakan, “Banyak umatKu sebelum kamu, tapi semuanya belum sampai kepadaKu, baru kamu seorang diri saja.” Kemudian saya mendapat bermacam-macam petunjuk langsung yang jelas dan gambling dari Allah SWT sehingga dapat mengetahui di mana adanya Allah dan bagaimana cara untuk bersujud atau beribadat yang sebenarnya dengan mendapat ridho Allah dari dunia sampai akhirat. Mungkin banyak di antara para pembaca yang bertanya-tanya dalam hati, apa yang menyebabkan saya sampai bisa mendapat ilham-ilham tersebut. Baiklah, hal itu akan saya jelaskan pada bagian berikut. Sejak saya lulus SD (vervolg) tahun 1939 dan kemudian melanjutkan ke ST Ambachtsleergaang hingga tahun 1941, saya juga belajar mendalami agama Islam pada guru-guru agama Islam yang sudah berpengalaman luas. Di samping itu, saya juga mempelajari berbagai ilmu yang pada waktu itu saya harapkan dapat membuat saya bisa mengenal Tuhan secara langsung. Pelajaran-pelajaran agama Islam yang saya dapat dari para guru saya kemudian saya bandingkan dengan kenyataan yang ada dengan menggunakan akal sehat saya sendiri. Ternyata, dari pembandingan tersebut banyak hal yang bertentangan. Dalam hal ini saya ambil contoh mengenai kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan wahyu-wahyu yang diterima beliau. Kalau kita membaca terjemahan-terjemahan Al Quran dalam bahasa Indonesia, selalu ditulis bahwa Allah memberikan petunjuk secara langsung kepada para nabi sebelum Nabi Besar Muhammad SAW. Misalnya ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa alaihi salam : “Kalamullahu Musa Takliman”. Juga kepada Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, Nabi Yakub as dan sebagainya. Lalu, mengapa ketika kepada Nabi Besar Muhammad SAW petunjukNya tidak diberikan langsung, melainkan melalui Malaikat Jibrail ? Apakah Allah tidak bisa berfirman langsung kepada beliau tanpa melalui malaikat Jibrail ? Di manakah adanya Allah dan malaikat Jibrail sebenarnya ? Kemudian, bagaimanakah sebenarnya peristiwa Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad itu, karena masih saja ada dua pendapat yang berlainan mengenai hal ini : yang satu berpendapat bahwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW itu dengan jasmaninya, sedangkan yang lain berpendapat hanya dengan rohaninya saja. Nah, pikiran-pikiran yang selalu ingin tahu seperti itulah yang merupakan salah satu penyebab saya mendapatkan ilham dari Allah. Selain itu, saya juga tak pernah merasa puas dalam mempelajari berbagai ilmu yang saya harapkan dapat membuat saya dapat mengenal Tuhan secara langsung, seperti yang saya tuliskan di atas. Jika ilmu yang saya pelajari itu saya anggap memakai perantara dalam amalan-amalannya, maka saya segera berhenti mempelajarinya dan mencoba mencari ilmu lain yang langsung kepada Tuhan. Namun ternyata pada saat itu saya tidak atau belum menemukan ilmu yang sesuai dengan keinginan saya tersebut, hingga akhirnya saya mendapatkan sendiri ilham-ilham dari Allah SWT. Setelah saya mendapat ilham-ilham dari Allah, maka akhirnya semua pertanyaan yang tersimpan dalam hati saya itu dapat terjawab dengan jelas dan gamblang. Pada waktu itu, saya bertanya kepada Allah SWT, “Ya Allah, sebenarnya Engkau itu ada di mana ? Begitu pula, di manakah adanya malaikat-malaikat itu?” Allah menjawab, “Aku ada bersamamu, di mana kamu ada Aku ada. Sedangkan malaikat-malaikat yang harus kau ketahui seperti Jibrail, Mikail, Israfil, Ijrail, Munkarun, Wanakir, Rokib, Atid, Ridwan dan Malik pun ada bersamamu, juga bersama orang-orang lainnya.” Atas dasar jawaban Allah SWT itu, jelaslah bagi kita bahwa Allah bisa saja memberi petunjuk atau firman melalui malaikat ataupun langsung, karena baik Allah sendiri maupun para malaikat itu ada bersama kita. Kemudian saya menanyakan tentang Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW, “Ya Allah, lalu mengapa kemudian Nabi Muhammad bertemu Engkau di langit, padahal Engkau ada bersamanya ?” Lalu Allah menjawab, “Bukan begitu, tetapi dia pergi bersamaku ke langit karena dia tak bisa apa-apa tanpa aku. Lalu sampai di atas, Aku perintahkan dia sesuai dengan apa yang kau laksanakan sekarang ini (shalat lima waktu dalam sehari semalam).” Allah juga menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW itu hanyalah dengan rohaninya, tidak beserta jasmaninya. Atas kekuasaannya, Allah dapat saja mewujudkan rohani Nabi Besar Muhammad SAW sehingga dapat dilihat oleh kafilah-kafilah antara Masjidil Haram sampai dengan Masjidil Aqsa. Jelasnya, apa yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW dapat pula terjadi pada kita jika kita sudah menguasai pelajaran melancong gaib. Hal ini dapat dilihat dari laporan-laporan para murid pada bagian lain buku ini. 4. Allah yang Mahatunggal Dari ilham-ilham Allah yang telah saya ungkapkan dalam tulisan di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa Tuhan ada bersama kita, namun dulu tak kita sadari. Sebetulnya jika kita perhatikan baik-baik, banyak petunjuk yang menyiratkan tentang hal itu, baik petunjuk yang berasal dari Allah sendiri dalam Al Quran, maupun yang berasal dari orang-orang tua kita zaman dulu. Dalam kitab suci Al Quran surat Al Hadiid ayat 4 Allah berfirman : “Wahuwa maakum aenama kuntum wallahu bima ta maluna basir”, yang artinya : “Di mana kamu ada Aku ada, dari itu Aku melihat saja apa yang kau lakukan”. Lalu ada pula firman Allah yang berbunyi : “Wanahnu akroba illaihi min hablil warid”, yang artinya : “Aku lebih dekat kepadamu daripada kedua urat nadimu”, atau : “Wallahu maakum”, yang artinya : “Aku bersamamu”. Juga dalam Al Hadist, Nabi Besar Muhammad SAW bersabda : “Man arofa napsahu fakod arofa robbahu”, yang artinya : “Ketahuilah dahulu dirimu, nanti kamu akan mengetahui Tuhanmu”. Arti sabda ini sesuai pula dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang tua dari Jawa Tengah dengan Bahasa Jawa : “Nek kowe arep weruh akune, goleki disik ingsune”. Demikian pula orang-orang Sunda (Jawa Barat) mengatakan : “Ari Allah nu teu bukti disebutkeun wujud pasti weleh medem teu kaharti lamun can nyaho kadiri”. Arti atau maksud dari ketiga bahasa tersebut di atas jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak berada di mana-mana, tetapi setiap saat ada bersama kita. Karena itu, kita tak bias apa-apa tanpa Dia, lahaola wala kuwwata illa billahil aliyul azim. Kita digerakkan, diberi macam-macam nikmat serta rahmat oleh Allah SWT, bukan oleh yang lain. Oleh karena itu, kalau kita merasa digerakkan, diberi nikmat serta rejeki oleh Allah dan jika kita mengakui bahwa Allah itu Yang Mahasegala-galanya, janganlah kita sekali pun meminta selain kepada Allah atau meminta kepada Allah dengan memakai perantara-perantaraan. Hal seperti itu berarti musrik. Ingatlah, Allah dan kita itu tidak ada antaranya lagi seperti gula dengan manisnya, atau seperti api dengan panasnya. Habis gulanya habis manisnya, habis apinya habis panasnya. Kita pun demikian, jika tiada Tuhan yang menggerakkan kita, itu berarti mati. Tentunya diantara para pembaca ada yang berpikir dengan bertanya-tanya dalam hati, “Kalau Tuhan bersatu dengan kita, berarti Tuhan itu banyak ; di si A ada Tuhan, di si B, si C dan lain-lainnya pun ada Tuhan karena Tuhan bersama mereka masing-masing.” Sebetulnya tidaklah begitu, Tuhan dikatakan satu bukan satu seperti bilangan biasa, tetapi Mahatunggal. Dikatakan satu bukan bentuknya, karena Allah tidak ada bentuknya di dunia maupun di akhirat. Kalau ada yang mengatakan bahwa kita akan bertemu Allah di akhirat, hal itu tidaklah benar. Allah itu dikatakan satu zatNya, sifatNya, asmaNya dan afalNya. Jadi zat Allah yang ada di si A sama saja dengan yang ada pada si B, si C, si D dan lain-lainnya, juga pada sekalian mahluk yang hidup. Karena itulah Allah dikatakan sebagai Yang Mahatunggal. Sebagai contoh, jika kita memohon kepada Allah selalu kita katakan “Ya Allah ya Tuhanku Yang Mahakuasa, saya mohon…” Tidak pernah kita katakan Ya Allah ya Tuhan Muhammad atau Tuhan bapaku atau nenekku. Tapi jika kita sedang beramai-ramai dapat kita katakana “Ya Allah Ya Tuhan kami.” Kita dapat merasakan dan membuktikannya sendiri bahwa setiap orang lain-lain gerak atau tingkah lakunya, sesuai dengan kemauan atau kehendaknya masing-masing. Kalau Tuhan dikatakan satu sebagaimana bilangan atau hitungan satu biasa, maka kita semua berada dalam satu komando, jalan satu jalan semua, tidur satu tidur semua dan sebagainya. Namun kita tidaklah begitu, kita bergerak dengan akal dan kemauan kita sendiri. Namun semua gerakan itu digerakkan oleh Zat Allah, karena tanpa Zat Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa (mati). ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT Banyak percobaan yang saya lakukan untuk membuktikan kebenaran firman-firman serta petunjuk-petunjuk yang langsung diberikan Allah, dan memberikan hasil yang sangat memuaskan. Maka setelah saya merasa benar-benar yakin akan kebenaran semua firman dan petunjuk Allah itu, saya mulai mencoba untuk menyampaikannya kepada orang lain, sesuai perintah Allah sendiri. Hal ini saya lakukan kira-kira pada tahun 1958. Ternyata hasilnya sangat memuaskan hati saya karena banyak orang yang tertarik untuk mengikuti pelajaran yang saya ini. Lebih-lebih setelah saya pensiun sebagai anggota ABRI, jumlah murid saya meningkat dengan pesat. Karena itulah saya memohon petunjuk dari Allah untuk memberikan nama bagi pelajaran ini. Atas petunjuk Allah, pelajaran ini harus saya namai “Ilmu Kesempurnaan Dunia Akhirat” (IKDA) atau “Mustika Iman”, sesuai dengan judul buku ini. Nama ini sesuai dengan tujuan saya yang ingin membentuk manusia yang sempurna lahir batinnya dan mendapat ridho Allah dari dunia sampai akhirat. Atas petunjuk Allah, maka saya dapat mengajarkan pelajaran-pelajaran berikut: 1. Gerakan gaib 2. Kewaspadaan mata hati (batin) 3. Petunjuk suara gaib 4. Melancong gaib (mi’raj). Semua itu bertujuan untuk : 1. Mengenal Tuhan 2. Menjaga diri dengan sempurna 3. Menolong sesama 4. Mengetahui jalan mati. Atau dengan kata lain, pelajaran-pelajaran ini bertujuan untuk mengenal dan mencintai Tuhan serta untuk mencintai sesama tanpa memandang bangsa maupun agama. Pelajaran-pelajaran ini tidak mengubah ajaran-ajaran agama yang ada, bahkan dimaksudkan untuk mempertebal iman kepada Allah SWT serta mengajak kita untuk selalu ingat kepada Allah dimana saja, kapan saja dan pada waktu apa saja. Jika kita selalu ingat kepada Allah, maka Allah pun akan selalu ingat kepada kita dan melimpahkan segala berkah dan rahmatNya pada kita. Sebaliknya, jika kita melupakan Allah, kita akan menerima azab dan siksa dariNya. Yang dimaksud ingat kepada Allah bukanlah dengan menyebut atau memuji nama Allah setiap saat, melainkan harus melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghindari segala laranganNya. Jika kita berdoa kepada Allah, kita sebut dulu nama Allah serta memujiNya, lalu kita lanjutkan dengan permohonan kita. Jika kita kurang sehat mohon sehat, kurang rejeki mohon rejeki, ingin dikasihani mohon dikasihani kepada Allah. Semua doa itu kita mohonkan dalam bahasa yang kita mengerti, karena Allah Mahatahu. Janganlah kita beranggapan bahwa Allah hanya mau menerima doa dalam bahasa Arab saja. Jika kita bersikap sok kearab-araban, seringkali malahan maksud kita tak tercapai karena doa yang dimohonkan bertolak belakang dengan yang diinginkan. Tapi agar permohonan kita cepat dikabulkan oleh Allah, sebelum kita memohon, baca dulu kalimat-kalimat berikut dalam hati. Setiap kalimat cukup dibaca sekali saja. Dalam pelajaran IKDA ini, kalimat-kalimat berikut disebut “kalimat kunci” : 1. Audzu billah himinassaiton nirrozim. 2. Bismillah hirrohman nirrohim. 3. Ashadu alla illaha ilallah wa ashadu anna Muhammadarasulullah. 4. Astagfirullah hal adzim lahaola wala kuwwata illa billahil aliyul azim. 5. Inna lillahi wa inna illaihi roziun. Lakukanlah dengan sikap duduk yang baik, kedua telapak tangan berada di atas pangkuan (tangan kanan di atas, tangan kiri di bawah), tutup mulut dan mata, kosongkan alam pikiran (hening) dan tahanlah nafas sekuatnya (tidak dipaksakan). Sambil menahan dan melepaskan nafas perlahan-lahan, mohon berulang-ulang dan sambung-menyambung dalam hati. Namun dalam situasi tertentu, misalnya sedang banyak orang, kita boleh saja memohon sambil membuka mata, asalkan nafas tetap ditahan sekuatnya dan pikiran dipusatkan. Sambil menahan dan melepaskan nafas, kita mohon terus sambung-menyambung. Insya Allah, jika memohon sesuai dengan cara yang telah dijelaskan di atas, permohonan kita cepat dikabulkan oleh Allah, sesuai dengan firmanNya : “Udj uni asta jiblakum” yang artinya “Mintalah kamu kepadaKu, nanti Aku kabulkan”. Adapun arti “kalimat kunci” di atas adalah sebagai berikut : 1. Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk.. 2. Dengan nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. 3. Tiada Tuhan yang patut kusembah dengan sebenar-benarnya, hanya Allah Tuhanku Yang Mahakuasa dan Muhammad pesuruhNya. 4. Aku berserah diri kepada Allah karena aku tiada berdaya apa-apa, hanya Allah Yang Mahasegala-galanya. 5. Asal bersama Allah kembali bersama Allah*). *) Selama ini pendapat umum mengatakan bahwa “Inna lillahi wa inna illaihi roziun” berarti “asal dari Allah kembali kepada Allah”. Namun pendapat ini tidak benar. Sebab, seperti dalam fiman-firman Allah yang telah saya kutip pada bagian terdahulu, Tuhan ada bersama kita, dan kita tak berdaya apa-apa tanpa Dia. Jika dikatakan asal bersama Allah kembali kepada Allah, berarti selagi hidup di dunia kita berpisah dengan Allah. Padahal dalam kenyataannya kita tak bisa apa-apa tanpa Allah (mati). Karena itulah, selagi masih hidup manusia disebut Tritunggal yang terdiri dari : 1. Allah 2. jasmani 3. rohani Setelah mati, lalu berubah menjadi Dwitunggal yang terdiri dari : 1. Allah 2. rohani Jasmaninya mati karena sudah tidak bersama Allah lagi. Baik jasmani maupun rohani tidak berdaya apa-apa tanpa Allah. Karena itu, tepat jika dikatakan asal bersama Allah kembali bersama Allah. Telah dijelaskan bahwa jika sudah mati kita berubah menjadi Dwitunggal (Allah dan rohani). Lalu, jika seseorang yang mati rohnya menjadi kuntilanak, jin, setan dan sebagainya, apakah Allah akan bersama kuntilanak itu ? Atau, jika roh seseorang yang mati masuk ke neraka, apakah Allah akan bersamanya masuk ke neraka ? Jawabannya : ya. Zat Allah akan tetap bersama roh-roh itu walau ke mana pun atau jadi apa pun, karena tanpa Allah tidak mungkin kuntilanak bisa terbang dan tertawa-tawa, tidak mungkin jin-jin dan setan-setan bisa bergentayangan. Mereka bisa begitu karena digerakkan oleh Allah. Tanpa Allah, tidak mungkin seseorang dapat merasakan sakitnya siksaan dan panasnya api neraka, atau merasakan nikmatnya surga. Tetapi bagi Allah sendiri, di kuntilanak, di surga maupun di neraka tidak merasakan apa-apa, di mana-mana sama saja bagiNya. Di neraka tidak merasakan panas, di surga tidak merasa nikmat, tidak butuh bidadari dan sebagainya. Demikianlah, semoga dengan penjelasan ini para pembaca dapat memahami mengapa dikatakan “asal bersama Allah kembali bersama Allah”. Sebagaimana telah diutarakan, pelajaran ini di antaranya bertujuan untuk mencintai sesama manusia tanpa memandang bangsa dan agama. Demikian pula, pelajaran ini dapat diikuti oleh semua orang, dari segala bangsa dan agama (bukan hanya agama Islam saja), asalkan mau dan sanggup mengikuti apa yang telah diuraikan di atas. Selain itu, kita tidak boleh menyebut dan mempercayai nama Tuhan lain selain Allah. Juga, kita tidak boleh memegang ilmu-ilmu lain yang sifatnya menduakan Tuhan atau menyekutukan Tuhan dengan yang lain. Semenjak saya mulai mengajar hingga saat buku ditulis, telah banyak orang dari agama Katolik, Kristen, Budha, Hindu dan sebagainya yang menjadi murid dan mencapai hasil yang memuaskan. Banyak yang tertarik untuk mengikuti pelajaran ini karena sangat praktis, tidak memerlukan pantang, puasa maupun bertapa. Semua pelajaran dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, cukup seminggu atau dua minggu saja, bahkan mungkin lebih singkat lagi, tergantung kepada kemauan, ketekunan dan keyakinan kita. Tanpa itu semua maka apa yang diinginkan tidak akan tercapai. KEGUNAAN SETIAP PELAJARAN Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu, pelajaran dalam IKDA ini terdiri dari 4 macam : – Pertama : gerakan gaib – Kedua : kewaspadaan mata hati (batin) – Ketiga : petunjuk suara gaib – Keempat : melancong gaib. 1. Pelajaran Pertama : Gerakan Gaib Gunanya untuk kesehatan lahir batin (jasmani dan rohani), membela diri, mengusir atau menangkap segala gangguan mahluk halus, mengusir segala penyakit aneh dan sebagainya. Doa cara memohonnya : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku mohon diberi gerakan…(apa yang kita inginkan) yang cepat dan sempurna gerakannya. Bagi mereka yang baru belajar, mula-mula harus mohon gerakan tangan ke atas dan ke bawah dahulu, dan setelah itu mohon agar tangan diputarkan seperti baling-baling. Setelah gerakan tangan selesai, lanjutkan dengan memohon gerakan jongkok berdiri berulang-ulang. Apabila semua gerakan tangan dan kaki sudah lancar dan cepat, kita bisa memohon gerakan silat dan sebagainya. Ingat, jika kita telah merasa capai atau lelah dalam mempraktekkan gerakan-gerakan, jangan lupa mengatakan : “Ya Allah, mohon berhenti.” Setelah gerakan berhenti, kita harus melakukan syukuran kepada Allah. Penjelasan : 1a. Setelah para murid lancar melakukan semua gerakan maka diadakan pembersihan dari segala dosa, amal perbuatan maupun ilmu-ilmu yang tidak diridhoi Allah. Yang membersihkan adalah Allah sendiri, dan murid didampingi oleh penuntun dan kawan-kawan seperguruan. Dalam gerakan pembersihan ini, Allah SWT akan memperlihatkan segala macam tingkah laku yang tidak baik dari tiap-tiap murid, misalnya suka berkelahi, suka berjudi, suka mabuk, suka berzinah dan sebagainya. Gerakan pembersihan ini harus diikuti terus hingga selesai sendiri. 1b. Doa pembersihan : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengampun, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku ….(sebutkan nama) pada malam / hari ini rela, iklas dan ridho dibersihkan lahir batin, jasmani dan rohaniku dari segala dosa-dosa, ilmu-ilmu, amal perbuatan atau apa saja yang tidak Engkau ridhoi demi untuk kesempurnaan, kesucian, keberkahan, keselamatan, ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan lahir batinku ini dari dunia sampai akhirat. Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, berilah diriku gerakan mukjizat yang cepat dan sempurna luar biasa untuk membersihkan lahir batinku ini dari segala hal yang tidak Engkau ridhoi dengan secepat-cepatnya dan sebersih-bersihnya. 1c. Doa syukuran : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku menghaturkan puji syukur alhamdulillah wa syukurillah yang sebesar-besarnya ke hadiratMu atas dikabulkannya permohonanku. Semoga semua itu Kau kekalkan bagiku dari dunia sampai akhirat. 2. Pelajaran Kedua : Kawaspadaan Mata Hati (batin) Gunanya untuk melihat segala sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa atau mata lahir, seperti mahluk-mahluk halus dan lain sebagainya. Doa cara memohonnya : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa , aku mohon diberi kewaspadaan penglihatan mata hati yang sempurna luar biasa untuk melihat ….(sebutkan apa yang ingin kita lihat) dengan jelas dan terang. Jika sudah dapat melihat apa yang diinginkan, jangan lupa untuk melakukan syukuran kepada Allah sesuai pelajaran pertama. 3. Pelajaran Ketiga : Petunjuk Suara Gaib Gunanya untuk bertanya kepada Tuhan mengenai suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan atau diatasi oleh akal pikiran kita sendiri. Perhatian ! Dalam petunjuk suara gaib ini kadang-kadang Allah memberikan petunjuk yang sengaja disalahkan untuk menguji akal pikiran kita, sebab Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna dengan diberi akal pikiran yang sempurna pula. Apabila mendapat petunjuk yang salah atau tidak masuk akal, jangan diterima begitu saja. Kita harus menolak dan mohon petunjuk yang benar, karena banyak orang yang menjadi gila dalam mempelajari suatu ilmu karena suka mengikuti petunjuk-petunjuk yang tidak benar. Karena itu, perhatikanlah laporan-laporan hasil guna dari para pengikut pelajaran IKDA ini. Doa cara memohonnya : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku mohon Kauberi petunjuk suara gaib yang sempurna, yang jelas dan pasti dariMu mengenai soal…dengan cepat. Apabila sudah berhasil, jangan lupa melakukan syukuran. Mungkin dalam petunjuk suara gaib ini banyak pembaca yang bertanya-tanya apakah kita dapat berhubungan langsung dengan Tuhan, sedangkan Nabi Besar Muhammad SAW sendiri melalui malaikat Jibrail. Jawabannya, sendi agama adalah akal, agama tanpa akal adalah buta. Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa Tuhan dan sekalian malaikat itu ada di dalam diri kita. Secara logika, karena Tuhan bersama kita, tentu saja kita bisa bercakap-cakap langsung denganNya, tanpa perantaraan siapa pun atau apa pun sebagaimana Allah telah berbicara kepada para nabi terdahulu. Allah menciptakan manusia itu sama saja, satu asal dan satu bahan. Apakah dia seorang nabi, wali, syekh, raja dan sebagainya, itu semua sama saja. Yang terpenting bagi Allah, siapa yang paling bertakwa kepadaNya itulah yang paling dimuliakanNya. Allah bisa saja memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia ridhoi atau Dia kehendaki, secara langsung maupun tidak. Hal ini juga telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Jadi bagi Allah, tidak ada sesuatu yang mustahil bila Dia menghendaki sesuatu. 4. Pelajaran Keempat : Melancong Gaib Gunanya untuk menemui sanak saudara ataupun sahabat yang berada di tempat yang jauh atau yang telah berada di alam gaib. Juga untuk berbagai keperluan lain, seperti yang diungkapkan dalam laporan hasil guna dari para pengikut pelajaran IKDA. Doa cara memohonnya : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku mohon melancong gaib ke….. dengan langsung dan cepat, tidak diceritakan jalannya. Kalau sudah sampai di tempat tujuan, setelah merasa puas kita harus mohon kembali : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, aku mohon kembali dengan cepat, tidak diceritakan jalannya. Setelah itu, kita harus melakukan syukuran kepada Allah. 5. Catatan – Seperti telah dijelaskan pada bagian terdahulu setiap doa kita harus didahului dengan membaca “Kalimat Kunci” dalam hati (cukup sekali). – Agar memperoleh hasil yang baik dan sempurna, setiap doa dalam pelajaran nomor 1 sampai dengan 4 harus dibaca terus menerus dan berulang ulang dalam hati, dengan penuh kekhusukan. Jika belum berhasil, berusahalah terus dengan tekun, insya Allah akan berhasil. Jika kita telah sungguh-sungguh yakin bahwa Tuhan bersama kita dan Tuhan yang Mahasegala-galanya, tentu saja kita akan dapat mencapai tujuan dari keempat pelajaran ini dengan sempurna. AMALAN-AMALAN / DOA-DOA YANG WAJIB DIAMALKAN Bagi setiap pengikut IKDA, amalan-amalan atau doa-doa di bawah ini harus diamalkan sebanyak mungkin. Tapi sebelumnya, perhatikan dulu cara berdoa atau memohon seperti yang telah diuraikan pada bagian terdahulu, yaitu dengan lebih dulu membaca “kalimat kunci” dalam hati (cukup sekali saja), baru kemudian memohon berulang-ulang sambil menahan nafas. 1. Doa Penyerahan Diri Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahaagung dan Mahamengetahui, hanya kepadaMu ya Allah aku berlindung, menyerahkan diri, bersujud, berbakti, menyembah, beribadah dan beriman. Serta hanya kepadaMu ya Allah aku mohon pertolongan serta petunjuk-petunjuk yang sempurna atas segala persoalan di dunia maupun di akhirat. 2. Doa Syukuran Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku menghaturkan puji syukur alhamdulillah yang sebesar-besarnya ke hadiratMu ya Allah atas segala nikmat, rahmat, rejeki, perlindungan, keselamatan dan segala berkah yang telah Kau limpahkan kepadaku. Semoga semuanya itu Kau kekalkan bagiku dari dunia sampai akhirat. 3. Doa Mohon Ampun Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa dan Mahapengampun, kumohon ampunilah segala dosaku, yang besar atau kecil, yang tampak atau tidak, yang terasa atau tidak, yang kusengaja atau tidak, dan ampunilah segala sepak terjang serta amal perbuatanku yang tak Engkau ridhoi sebagaimana Engkau telah mengampuni dosa-dosa oarng-orang sebelumku. Juga, kumohon ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku, anak dan istriku, sanak saudaraku, karib kerabatku dan umatMu yang lain, sebab Engkaulah yang Mahatahu dan Mahapengampun. Penjelasan : Doa yang pertama disebut Doa Penyerahan Diri, karena kepada siapa lagi kita menyerahkan diri jika bukan kepada Allah yang Mahasegala-galanya (bagi yang beragama Islam, doa ini seperti Doa Iftitah dalam shalat wajib). Doa yang kedua disebut Doa Syukuran, karena sepanjang hari kita telah menerima bermacam-macam kenikmatan dari Allah (berupa makanan, minuman, nikmat melihat, mendengar, merasakan dsb.), juga kita telah menerima rejeki dari Allah sehingga kita dapat makan, minum dan sebagainya. Selain itu, sepanjang hari kita pun telah dilindungi dan diselamatkan oleh Allah terhadap segala macam bahaya. Maka sudah sewajarnya jika kita merasa bersyukur pada Allah atas segala karuniaNya itu dengan mengucapkan Doa Syukuran. Doa yang ketiga yaitu Doa Mohon Ampun. Setiap manusia yang beriman kepada Allah dan mempunyai perasaan haruslah selalu merasa berdosa, karena dalam setiap ucapan, perbuatan, sepak terjang, pikiran dan penglihatan kita pastilah kita sering berbuat kesalahan atau kekhilafan terhadap sesama manusia, dan bahkan terhadap Tuhan yang Mahakuasa. Jika kita bersalah terhadap sesama manusia, kita minta maaf kepada yang bersangkutan. Demikian juga jika kita berbuat kesalahan terhadap Tuhan, dengan sendirinya kita harus langsung mohon ampun kepadaNya. 4. Doa Kesadaran Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon padaMu jadikanlah aku sekeluarga orang-orang yang saleh, jujur, sabar dan sadar, serta beriman dan bertakwa hanya kepadaMu. Juga, masukkanlah kami ke dalam golongan ahli surga serta golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dariMu. 5. Doa Ketenangan Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon padaMu agar aku sekeluarga Kau beri kehidupan yang tenang, tenteram, damai, bahagia, gembira, sehat dan selamat, berkah, nikmat dan sejahtera, sempurna lahir batin dari dunia dan akhirat. 6. Doa Mohon Rejeki Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon agar aku sekeluarga Kau beri rejeki yang berlimpah ruah, terus menerus tiada habisnya berupa uang, sandang dan pangan demi ketenangan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesempurnaan hidupku sekeluarga dari dunia sampai akhirat, dan untuk amal salehku ya Allah. 7. Doa Perlindungan Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahasakti dan Mahaperkasa, kumohon agar aku sekeluarga Kau lindungi, Kau hindarkan dan Kau jauhkan sejauh-jauhnya dari segala macam marabahaya, malapetaka, penyakit, dari segala kejahatan, kemurkaan, gangguan dari sesama manusia, dari gangguan mahluk-mahluk halus, roh-roh jahat, jin, setan, siluman, iblis marakayangan, ilu-ilu banaspati dan sebagainya. Juga, kumohon jauhkanlah dari segala macam ujian, cobaan, godaan, hinaan, cacian, makian dan fitnahan yang datang dari mana saja, kapan saja dan waktu apa saja, demi kesempurnaan hidupku dari dunia sampai akhirat nanti ya Allah. 8. Doa Keagungan Atau Pengisian Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahaagung, Mahasakti dan Mahasegala-galanya, kumohon agar lahir batinku, jasmani dan rohaniku, rasa perasaan dan alam pikiranku Kau isi dan Kau saluri dengan ………………………………………………….. { Do’a Keagungan / Pengisian ini sengaja belum kami munculkan mengingat pembaca internet adalah khalayak umum. Kami tidak mau ada hal – hal yang tidak di inginkan terjadi. Untuk menghindari terjadinya salah pengamalan ilmu ” MUSTIKA IMAN ” } 9. Doa Kewaspadaan Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon berilah aku kewaspadaan dan ketajaman perasaan lahir batin yang sempurna luar biasa untuk dapat mengetahui segala sesuatu yang akan atau belum terjadi. 10. Doa Penutup Amin ya Allah ya robbal alamin, semoga Allah mengabulkan semua permohonanku. ——– Semua doa di atas merupakan permohonan kita kepada Allah SWT, karena hanya Dialah tempat kita memohon (Allahu Somad), baik mengenai persoalan dunia maupun akhirat. Hanya Allah yang Mahasegala-galanya yang menguasai sekalian alam. Selain berdoa seperti di atas, kita pun jangan lupa untuk mendoakan para nabi (Salawat Nabi), para wali, para leluhur kita, para pemimpin negara kita serta nusa bangsa kita. Di samping itu, kita pun harus selalu berdoa jika akan makan, minum dan mandi, atau ketika akan tidur, bepergian dan sebagainya. Ini sesuai dengan nama pelajaran kita, yang bertujuan agar kita sempurna baik jasmani maupun rohani. Doa Mau Makan Atau Minum : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon agar makanan / minuman ini Kau sucikan, Kau bersihkan, Kau berkati dan Kau sempurnakan. Juga, kumohon sucikan, bersihkan, berkati dan sempurnakanlah aku / kami yang memakan / meminumnya. Doa Mau Mandi : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon agar Engkau menyucikan, membersihkan, memberkati dan menyempurnakan air mandi beserta alat-alat yang kupakai mandi. Juga, kumohon sucikan, bersihkan, berkati dan sempurnakanlah aku yang akan mandi ini. Setelah selesai makan / minum / mandi, jangan lupa melakukan syukuran atas segala nikmat, rahmat, rejeki atau kesegaran yang telah kita terima itu, dan mohon agar semua itu dikekalkan dari dunia sampai akhirat. Doa Akan Bepergian : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon lindungi dan selamatkanlah aku dan semua orang yang ada dalam kendaraan ini dari awal perjalanan hingga akhir tujuan nanti. Setelah sampai di tujuan, jangan lupa untuk syukuran : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, aku menghaturkan puji syukur alhamdulillah yang sebesar-besarnya ke hadiratMu atas segala perlindungan dan keselamatan yang telah Kau berikan padaku. Semoga semua itu Kau kekalkan bagiku dari dunia sampai akhirat. Doa Akan Tidur : Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kumohon agar aku sekeluarga Kau beri tidur yang nikmat, nyenyak dan selamat sampai dengan waktu kami bangun. Setelah bangun tidur, jangan lupa melakukan syukuran. Jadi pada dasarnya, pelajaran yang saya tulis dalam buku ini mengajak kita agar selalu ingat kepada Allah SWT di mana saja, kapan saja dan pada waktu apa saja. Catatan : Jika doa-doa yang telah dituliskan di atas dirasakan terlalu panjang, para murid boleh saja menyingkatnya asalkan makna dan isinya tidak berubah. Doa-doa lainnya bisa dibuat sendiri berdasarkan kebutuhan, dengan kalimat yang tepat dan sesuai, asalkan sebelumnya kita menyebut dulu nama Allah serta memujiNya. LAPORAN HASIL GUNA PELAJARAN ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT Berkat ketekunan, keyakinan dan kemauan dari para pengikut pelajaran IKDA ini yang mengamalkan dengan penuh kesungguhan apa-apa yang telah diajarkan, maka banyak di antara mereka mencapai hasil yang sangat memuaskan. Banyak pengikut atau murid yang datang melaporkan keberhasilan mereka kepada saya. Sebagian kecil dari laporan-laporan itu saya tuliskan di sini sebagai bahan perbandingan. 1. Laporan Pertama Saudara A. Ishak, Bengkulu, Sumatera Selatan. Pada suatu hari, saya hendak bersembahyang Jum’at. Begitu saya masuk ke mesjid, tiba-tiba ada petunjuk suara gaib dari Tuhan, “Hai Ishak, kamu jangan bersembahyang di sini.” Dengan agak terkejut, saya bertanya, “Mengapa, ya Allah ?” “Karena orang-orang di mesjid ini belum tahu cara menyembahKu yang sebenarnya, agama mereka hanya kedok belaka.” “Lalu bagaimana ya Allah, aku sudah terlanjur memasukinya.” “Kamu boleh saja bersembahyang di sini, asalkan kamu menjadi imam.” “Bagaimana mungkin aku menjadi imam ya Allah, imam hari ini telah ditentukan. Nanti akan menyinggung perasaannya.” “Bagus Ishak, itu namanya muslimin sejati, dapat mengerti perasaan orang lain. Kamu boleh bersembahyang di sini, di deretan nomor satu sebelah kanan dan tidak boleh ma’muman, tetapi kamu boleh mengikuti gerakannya saja.” Setelah itu, saya bersembahyang biasa dan membaca doa-doa. Tetapi, Allah menegur saya, “Hai Ishak, jangan kamu ikuti doa-doa mereka.” “Kenapa, ya Allah ?” “Mereka bernyanyi, bukan berdoa. Apa yang mereka ucapkan tidak sesuai dengan hatinya.” Setelah itu, saya berdoa sendiri dengan khusuk, dan segera pulang ke rumah. 2. Laporan Kedua Juga dari saudara A. Ishak. Pada suatu hari, saya ingin buang air kecil di ladang. Saya melihat seekor ular yang sedang menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan. Dengan segera, saya ambil sebatang kayu untuk memukulnya. Tapi, tiba-tiba Tuhan berkata, “Hai Ishak, jangan kamu pukul ular itu. Dia sedang bingung. Perintahkanlah dia supaya segera pergi.” Kemudian saya perintahkan ular itu untuk segera pergi, sesuai petunjuk Allah. Ular itu pun segera pergi menjauh. Tak jauh dari situ ada sebuah lubang. Lalu saya suruh ular itu masuk ke lubang tersebut. Aneh, ular itu pun masuk lubang sesuai perintah saya. 3. Laporan Ketiga Saudara Arsya Palimbu dari Rantepao. Sulsel. Pada suatu malam, saya sedang khusuk munajat (semedi). Tiba-tiba ada petunjuk dari Tuhan yang mengatakan, “Hai Arsya, besok akan datang seseorang yang akan menanyakan soal Hadist dan tafsir Al Quran kepadamu.” Kemudian saya bertanya, “Ya Allah, bagaimana saya dapat menjawabnya. Aku belum banyak mengerti soal-soal itu.” “Kamu tidak usah khawatir, itu urusanKu.” Keesokan harinya, betul-betul datang seseorang yang ingin menanyakan soal Hadist dan tafsir Al Quran. Orang itu bernama Hamsarani. Atas berkah Allah, dengan mudahnya saya dapat menjawab segala pertanyaan yang diajukannya. Karena mendapat jawaban yang jelas dan sempurna, Hamsarani pun merasa sangat puas. Setelah itu saya pun mengucapkan syukur kepada Allah atas segala petunjukNya. ——— Sebenarnya, masih bermacam-macam banyaknya laporan hasil guna yang diberikan kedua orang tersebut. Semua merupakan berkah Allah SWT. Namun, lebih baik kita beralih kepada laporan para pengikut lain. 4. Laporan Keempat Saudara M. Soleh dari Ciamis, Jawa Barat. Pada waktu sedang mempraktekkan gerakan gaib, saya bertanya kepada Bapak Yusuf Suparta, penuntun besar IKDA, “Pak, pada waktu saya masih kecil, oleh ayah badan saya diisi dengan Surat Sulaiman dan Surat Yusuf. Apakah itu perlu dibersihkan ?” Pada waktu itu, bapak guru (penuntun) menjawab, “Tentu saja harus. Ayat-ayat Al Quran bukan untuk dimasukkan ke badan, tetapi untuk dibaca dan diartikan, sehingga kita dapat mengerti apa yang difirmankan oleh Allah SWT.” Tetapi karena saya merasa bahwa ayat-ayat yang telah diisikan ayah saya itu banyak manfaatnya, maka saya menolak untuk dibersihkan sebelum mendapat petunjuk langsung dari Allah. Pada suatu malam, sehabis sembahyang Isa, saya melakukan munajat mulai dari jam 20.00 sampai dengan jam 24.00. Saya munajat mohon petunjuk dari Allah SWT mengapa Surat Sulaiman dan Surat Yusuf itu tidak boleh dimasukkan ke dalam tubuh saya. Karena saya memohon dengan penuh kekhusukan sesuai tata cara yang saya pelajari dalam IKDA, maka akhirnya saya pun mendapat petunjuk dari Allah. Mula-mula Allah memberi petunjuk dalam bahasa Arab, namun saya menolak dan sekaligus memohon, “Ya Allah, aku bukan orang Arab. Berikanlah petunjuk dalam bahasa yang aku mengerti.” Tuhan pun berkata, “Hai Soleh, ketahuilah bahwa Aku turunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada umatku, bukan untuk dimasukkan ke badan atau ditulis-tulis di kain putih untuk jimat. Al Quran harus dibaca dan dimengerti isinya. Karena baik Sulaiman, Yusuf, Muhammad, kamu dan juga yang lain itu sama-sama Aku lindungi, maka mintalah langsung kepadaKu apa saja yang kamu kehendaki, niscaya Aku kabulkan asalkan kamu khusuk meminta kepadaku dengan menggunakan cara-cara yang telah Aku tentukan kepada penuntunmu.” Setelah mendapat petunjuk demikian dari Tuhan, keesokan harinya saya melapor kepada bapak guru bahwa saya sudah rela dan iklas lahir batin saya dibersihkan dari segala hal yang tidak diridhoi Allah. 5. Laporan Kelima Saudara Ato Hermanto dari Cimindi, Cimahi (Jabar). Pada suatu hari, secara mendadak saya merasakan sakit yang sangat hebat di kepala saya. Maka, saya duduk bersila dengan takzim dan mohon petunjuk kepada Allah SWT, “Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, aku mohon petunjuk yang sempurna dan pasti mengenai sakit kepalaku ini.” Lalu Allah menjawab, “Hai Ato, kamu dikhianati oleh seorang kawan yang tidak menyenangimu.” Lalu saya bertanya lagi, “Bagaimana cara menghilangkan penyakitku ini ya Allah ?” “Pergilah ke tempat dari mana datangnya penyakit itu dengan melancong gaib.” Kemudian saya mohon melancong gaib ke tempat dari mana datangnya penyakit tersebut. Sampai di tempat tujuan, saya melihat kawan saya sedang berada di rumah seorang dukun yang sedang mengguna-gunai saya dengan cara menusuk-nusuk kepala sebuah boneka di atas pedupaan (tempat membakar kemenyan). Lalu dengan segera saya sergap dukun itu dan saya hancurkan semua peralatannya. Setelah saya kembali dari melancong gaib, semua penyakit saya hilang tanpa bekas. Kemudian, saya pun melakukan syukuran kepada Allah. 6. Laporan Keenam Saudara Abung Sutisna dari Kampung Cijalu, Cikampek, Krawang (Jawa Barat). Karena masalah keuangan, pada hari raya Lebaran tahun 1969 saya tidak bisa bersilaturahmi dengan kedua orang tua saya yang tinggal di Sumedang, Bandung (Jawa Barat). Karena sebetulnya saya sangat ingin bertemu dengan kedua orang tua saya dan saudara-saudara saya yang lain, maka saya pun mohon kepada Allah untuk melancong gaib. “Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, saya mohon melancong gaib ke Sumedang untuk menemui orang tuaku dengan cepat dan tidak diceritakan jalannya.” Syukurlah, Allah mengabulkan permohonan saya. Sampai di Sumedang, tampaklah kedua orang tua saya beserta sanak keluarga yang lain sedang berkumpul. Karena saya merasa bahwa saya tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang ada di situ, maka dengan izin Allah saya masuk ke dalam jasmani Ujang, adik saya yang sedang melamun. Lalu saya pun menyampaikan salam, “Assalamualaikum.” Tentu saja semua yang hadir di situ merasa heran karena Si Ujang yang tadinya diam saja tiba-tiba menyampaikan salam. Kemudian saya berkata, “Saya bukan Si Ujang, saya Abung Sutisna dari Cikampek datang ke sini untuk meminta maaf kepada ibu dan bapak, juga kepada yang lainnya.” Dengan demikian, semua orang yang berada di situ makin bertambah heran. Mereka menyangka bahwa saya sudah mati dan roh saya masuk ke jasmani adik saya. Tapi agar orang-orang tidak berprasangka yang bukan-bukan, maka saya bercerita apa adanya. Kemudian saya kembali ke Cikampek. Keesokan harinya, Ujang datang ke Cikampek untuk menemui saya sekaligus memastikan kebenaran cerita saya. Setelah yakin bahwa saya sehat-sehat saja, maka ia kembali ke Sumedang. 7. Laporan Ketujuh Saudara Eddy Ruspendi dari Sukabumi, Jawa Barat. Pada suatu hari saya menemui bapak penuntun dan bertanya, “Pak guru, bisakah saya dipertemukan dengan almarhumah ibu saya, karena saya ditinggal ibu ketika saya masih bayi berumur 40 hari. Bahkan fotonya pun tidak ada.” Lalu bapak penuntun bertanya kepada saya, “Menurut ayahmu, bagaimana keadaan ibumu selagi masih hidup ?” “Menurut ayah, ibu orang yang tebal imannya, suka beramal saleh dan tolong menolong, tidak pernah cekcok dengan tetangga serta berbakti kepada suami.” “Jika memang demikian keadaannya, maka ibumu ada di surga karena Allah berjanji bahwa Dia menyediakan surga kepada mereka yang beriman kepadaNya dan suka beramal saleh.” Kemudian beliau menyuruh saya duduk bersila dengan takzim dan memohon kepada Allah SWT seperti berikut, “Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku mohon melancong gaib ke surga untuk menemui ibuku dengan cepat dan tidak diceritakan jalannya.” Atas kemurahan Allah, maka permohonan saya dikabulkan. Saya sampai di suatu tempat yang para penghuninya berpakaian sutera putih. Mereka menegur saya, “Kamu akan pergi ke mana ?” “Saya mau ke surga.” “Kalau begitu, kamu harus berganti pakaian seperti kami.” Lalu saya melepas pakaian saya dan menggantinya dengan pakaian yang serba putih. Setelah itu saya di bawa menuju ke sebuah pintu yang sangat indah dari emas yang berukir dan bertatahkan permata. Di atasnya ada tulisan Arab yang berbunyi “Laillaha illalah.” Penjaga pintu itu menanyai saya, “Kamu mau pergi ke mana ?” “Saya mau menemui ibu saya.” “Siapa namanya, dan sudah berapa lama ia meninggal ?” “Beliau bernama Hadijah, meninggal + 22 tahun yang lalu.” “Dia ada di pintu ke tujuh.” Seketika itu juga, pintu surga itu terbuka. Terciumlah bau harum yang semerbak tiada taranya. Kemudian pintu demi pintu yang lain terbuka. Semua pintu itu bertuliskan “Laillaha illallah Muhammadarasulullah”; hanya pintu pertama saja yang bertuliskan “Laillaha illallah”. Di pintu ke tujuh, ibu sudah menunggu saya. Beliau langsung memeluk saya dengan penuh haru dan berkata “Oh anakku, kamu sudah begini besar. Tapi bagaimana kamu bisa masuk ke sini, padahal kamu masih orang dunia.” “Saya bisa menjumpai ibu di sini berkat pertolongan penuntun saya dan atas izin Allah SWT. Tanpa dikehendaki oleh Allah, tidak mungkin saya bisa menemui ibu di sini. Lalu, bagaimana ibu bisa berada di tempat yang indah ini, bahkan ditemani oleh tujuh bidadari yang begitu cantik ?” “Itu karena sewaktu masih hidup ibu selalu beriman kepada Allah dan beramal saleh. Ibu selalu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, serta selalu berbakti kepada suami dengan tulus ikhlas.” Lalu beliau bertanya, “Bagaimana keadaan ayahmu sekarang ?” “Ayah sehat-sehat saja, bu.” “Syukurlah kalau begitu. Sekarang, apakah kamu ingin melihat-lihat taman firdaus yang indah ?” “Tentu saja, bu.” Lalu ibu menyuruh dua orang bidadari untuk menemani saya berkeliling melihat-lihat taman firdaus. Saya bahkan sempat merasakan tuak surga yang nikmat luar biasa. Setelah puas, saya kembali ke tempat ibu saya. Ibu berkata, “Nak, sekarang pulanglah kamu.” “Tidak, bu. Saya sangat betah di sini, saya tidak ingin kembali ke dunia lagi.” Tapi ibu melarang saya, “Belum waktunya kamu tinggal di sini.” Akhirnya, saya pun berganti dengan pakaian semula dan kembali lagi ke dunia. Setelah itu saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas dikabulkannya permohonan saya tersebut. 8. Laporan Kedelapan Saudara Hamdun dari Cililin, Bandung, Jawa Barat. Pada suatu malam, sehabis sembahyang Isa, saya mengamalkan amalan-amalan wajib berulang-ulang. Malam itu, saya memperbanyak amalan mohon rejeki. Ketika saya sedang khusuk memohon, Allah berkata, “Hai Hamdun, kalau kamu ingin kaya atau banyak rejeki sembah saja pohon keladi yang ada di depan rumahmu tiga kali setiap pagi, nanti Aku beri kamu kekayaan yang melimpah ruah.” Lalu saya menjawab, “Ya Allah, aku tidak mau menyembah pohon keladi walaupun akan mendapat rejeki yang berlimpah ruah, karena yang wajib saya sembah hanyalah Engkau dan hanya kepada Engkau aku mohon rejeki, bukan kepada pohon keladi seperti yang Kau katakan itu.” “Bagus Hamdun, kamu berhasil lulus dari ujianKu, teruslah mohon kepadaKu.” Karena tekun memohon, akhirnya saya mendapatkan rejeki yang cukup untuk memperbaiki rumah. Bahkan kemudian saya bisa membeli kendaraan serta berbagai kebutuhan lainnya. 9. Laporan Kesembilan Saudara Tiram dari Yogyakarta. Pada suatu malam, sehabis sembahyang Isa, saya mengamalkan amalan-amalan wajib. Setelah itu, saya mohon kepada Allah untuk melancong gaib. Atas izin Allah maka permohonan saya terkabul. Saya melancong gaib dari Ujung Menteng, Jakarta Timur, menuju rumah ibu saya di Yogyakarta. Sampai di tujuan, saya berjumpa dengan ibu. Lalu ibu menegur saya, “Jam berapa kamu dari Jakarta, dan naik apa ?” “Saya naik bus, bu.” Ibu saya lalu menyiapkan makanan dan menyuruh saya untuk makan. Saya menolak walaupun ibu terus memaksa. Lalu saya memberi alasan, “Maaf bu, saya hanya bisa singgah sebentar karena ada tugas penting.” Lalu saya berpamitan. Ibu saya tampak menyesal karena saya tidak mau makan sedikit pun makanan yang disediakan beliau. Beberapa hari kemudian kakak saya yang juga di Jakarta pulang ke Yogya. Sesampainya di Yogya ibu menceritakan tentang kedatangan saya ke Yogya. Kakak saya menjadi terheran-heran mendengar cerita ibu, karena pada malam saya datang ke Yogya seperti yang diceritakan oleh ibu saya itu, saya ada di rumah kakak saya di Jakarta dan tidak pergi kemana-mana. Ibu pun menjadi lebih heran lagi. Lalu beliau bertanya, “Kalau begitu, apanya yang datang ke sini ? Padahal jelas ibu melihatnya dan menyediakan makanan untuknya. Pantas saja dia tidak mau makan sedikit pun.” ——— Jelaslah bahwa dengan kekuasaanNya, Allah SWT dapat saja mewujudkan atau menjelmakan rohani seseorang sehingga dapat dilihat oleh orang-orang yang ditujunya. Kejadian yang dialami oleh saudara Tiram ini mirip dengan peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad. Di sini jelaslah bahwa Allah itu yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, tidak memandang apakah itu seorang nabi ataukah seorang awam. Bagi Allah semua sama saja, yang penting siapa yang paling bertakwa, itulah yang paling diridhoi dan dimuliakanNya. 10. Laporan Kesepuluh Saudara Makmur dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pada suatu malam, kira-kira jam sebelas, saya memohon kepada Allah untuk melancong gaib ke neraka, sebab saya ingin melihat orang-orang yang sedang disiksa di sana. Atas izin dan kemurahan Allah SWT, permohonan saya dikabulkan. Allah memperlihatkan bermacam-macam siksaan di neraka kepada saya. Yang terakhir saya lihat, tampak orang-orang yang dibakar dengan api neraka bertingkat-tingkat. Pada tingkat yang paling bawah, tampak orang-orang yang disiksa itu sudah menjadi hitam sekali. Makin ke atas menjadi agak kemerah-merahan, sedangkan perutnya besar-besar. Karena saya yakin bahwa kepergian saya disertai Allah, maka saya bertanya, “Ya Allah, kenapa orang-orang tersebut disiksa begitu ?” Allah menjawab, “Orang-orang yang paling bawah itu, yang paling hitam, pada waktu hidupnya menjadi seorang lintah darat atau rentenir. Sedangkan yang lain, yang di atasnya, pada waktu hidupnya suka memakan barang riba atau rejeki-rejeki yang tidak Aku ridhoi.” Dari penjelasan Allah itu, saya merasa diingatkan oleh Allah karena kebetulan saya adalah seorang anggota POLRI. Kemudian, saya mohon kepada Allah untuk kembali, dan setelah itu saya mengucapkan syukur. 11. Laporan Kesebelas Saudara Maman Rahman dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Pada suatu hari, saya pergi menemui bapak penuntun. Lalu saya berkata, “Pak guru, saya datang ke sini minta izin untuk melancong gaib ke tempat di mana saya akan ditempatkan apabila saya kembali atau mati nanti.” Bapak penuntun berkata, “Coba kamu mohon langsung pada Tuhan.” Lalu saya duduk bersila dengan takzim dan mohon kepada Allah, “Ya Allah ya Tuhanku yang Mahakuasa, Mahapengasih lagi Mahapenyayang, aku mohon melancong gaib ke tempat di mana aku akan Engkau tempatkan bila mati nanti.” Atas kemurahan Allah SWT, akhirnya keinginan saya dikabulkan juga. Mula-mula saya merasa keluar dari raga saya dengan memakai jubah yang sangat panjang berwarna kemerah-merahan. Sampai di suatu tempat yang sangat indah, saya dijemput oleh beberapa orang bidadari yang sangat cantik. Di antara mereka ada yang memegangi jubah saya karena panjangnya. Karena saya ingat akan pesan bapak penuntun bahwa kita tidak boleh menyusahkan orang lain, maka saya memohon kepada Allah agar jubah saya dipendekkan. Setelah jubah itu menjadi pendek, bidadari itu menjadi bebas, tidak perlu memegangi jubah saya lagi. Dengan didampingi oleh para bidadari itu, saya dibawa ke suatu ruangan yang sangat indah dan harum semerbak, tiada bandingannya di dunia. Di sana, segalanya serba ada. Saya ingin apel langsung tersedia, ingin minum anggur sudah ada. Karena asyiknya saya di tempat itu, Allah pun menegur saya, “Hai Maman, cepatlah kamu pulang ke dunia karena kamu masih orang dunia.” “Aku tidak mau kembali ke dunia, ya Allah. Aku takut berbuat dosa lagi.” “Kalau kamu tetap beriman kepadaKu dan beramal saleh, niscaya kamu akan kembali lagi ke tempat ini.” Setelah Allah berkata begitu, maka saya pun mohon untuk kembali. Tapi ketika saya akan masuk ke dalam jasmani saya, saya merasa bingung karena jasmani yang akan saya masuki besarnya sama dengan saya. Kemudian terdengar petunjuk dari Allah, “Hai Maman, kau tindihi saja ragamu itu.” Maka, saya tindihi saja raga saya itu. Setelah itu, saya merasa dapat bergerak bebas seperti biasa. Kemudian saya melakukan syukuran. 12. Laporan Kedua Belas Saudara Sumaji dari Pacitan, Jawa Timur. Setelah saya menjalani pembersihan dengan bimbingan bapak penuntun, maka saya menekuni semua amalan yang diberikan kepada saya. Pada suatu ketika, kira-kira selama 4 hari 4 malam saya tidak tidur untuk munajat mengamalkan semua amalan yang ada. Saya hanya beristirahat pada waktu-waktu sembahyang fardu, makan dan minum serta waktu mandi saja. Atas ketekunan saya itu, pada malam keempat saya mendengar Allah berkata, “Hai Sumaji, apabila kau sudah betul-betul menyerahkan dirimu padaKu, maka bunuhlah dirimu !” Kemudian saya bertanya, “Siapa yang memerintahku ini ?” “Aku Tuhanmu.” “Di mana Kau berada, ya Allah ?” “Aku ada bersamamu, di mana kau ada Aku ada.” “Bila sungguh-sungguh Engkau yang memerintahkan, aku akan melaksanakannya ya Allah.” Lalu saya pergi ke dapur mencari pisau yang paling tajam. Istri saya yang sedang di dapur bertanya, “Untuk apa pisau itu ?” “Saya mau bunuh diri.” jawab saya. “Aduh, jangan berbuat begitu,” larangnya dengan panik. Tapi saya tidak menghiraukannya dan berkata, “Ini perintah dari Allah.” Kemudian pisau itu saya hujam-hujamkan ke seluruh tubuh saya. Ternyata, sedikit pun pisau itu tak dapat menggores badan saya. Kemudian terdengar Allah berkata, “Sudah, berhentilah! Ketaatanmu kepadaKu sudah terbukti, dan sebagai hadiahnya, sekarang Kuajak kau ke neraka dan surga.” Dalam sekejap mata, saya telah sampai di neraka. Tuhan memperlihatkan kepada saya orang-orang yang di siksa di sana atas dosa-dosa mereka. Setelah itu, dibawaNya saya ke surga. Karena begitu indah dan nikmatnya surga, saya merasa sangat betah dan tidak ingin pulang lagi ke dunia fana. Tapi kemudian saya bertemu dengan bapak penuntun yang menyuruh saya kembali ke dunia. Maka, saya pun segera mohon untuk kembali, dan setelah sampai, saya melakukan syukuran kepada Allah. ——— Laporan-laporan dari para pengikut IKDA yang lain pada umumnya senada dengan laporan-laporan di atas. Laporan yang terbanyak yaitu mengenai praktek-praktek pengobatan orang-orang sakit, baik yang disebabkan oleh penyakit ‘biasa’ maupun penyakit yang aneh. Penyembuhan biasanya dilakukan dengan menggunakan air putih yang didoakan, gerakan gaib, maupun dengan berdasarkan petunjuk suara gaib dari Allah SWT. PENUTUP Setelah kita membaca dan menelaah isi buku ini dari awal sampai akhir, maka kita mendapat kesimpulan bahwa apabila Allah menghendaki, tidak ada satu persoalan pun, baik di dunia maupun di akhirat, yang mustahil bagiNya. Kita bisa mengetahui keadaan surga ataupun neraka, bisa mengobati orang-orang sakit, bisa bercakap-cakap dengan Allah dan sebagainya hanyalah karena Allah menghendakinya atau atas seizin Allah. Kita manusia ini dikatakan lahaola wala kuwata, tidak berdaya dan tidak berdaya apa-apa. Semuanya bisa terjadi karena kuasa Allah. Maka setelah menghayati pelajaran ini, marilah kita semua mulai untuk selalu melaksanakan segala perintah Allah, menjauhi segala laranganNya, menanamkan sedalam-dalamnya rasa persatuan dan kesatuan serta rasa welas asih terhadap sesama manusia dan menghindari sejauh-jauhnya rasa permusuhan dan rasa benci terhadap sesama kita tanpa memandang bangsa dan agama. Juga, wujudkan dan amalkanlah isi Pancasila sebaik-baiknya, sehingga kita menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya, yang berbudi luhur serta berguna bagi nusa bangsa dan agama kita. Dengan demikian, mudah-mudahan kita mendapat ridho Allah di dunia dan di akhirat. Akhir kata, semoga Allah menjadikan negara kita Republik Indonesia ini sebagai negara yang subur, makmur, tenteram, damai dan sejahtera untuk selama-lamanya. Amin ya Allah ya robbal alamin. Akhirulkalam wabillahi taufik wal hidayah wassalamualaikum wr. wb. ———————————————————————————– KET : 1. Ilmu ” MUSTIKA IMAN ” ini adalah ilmu Ma’rifat. 2. Pengamalan Ilmu ” MUSTIKA IMAN ” dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai wirid setelah Sholat Fardhu. Dan sebaiknya di wirid lagi setelah Sholat Tahajud. 3. Ikhwan ” MUSTIKA IMAN ” yang baru dalam tahapan belajar dan belum melakukan pembersihan, di sarankan jangan mempraktekkan penggunaan ilmu ini sebelum mendapatkan arahan dari pembimbing. 4. Kepada semua peserta / calon ikhwan yang sudah merasa mantap untuk ikut mempelajari ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT ” MUSTIKA IMAN ” ini, apabila ada yang merasa kesulitan dalam mempelajari , di sarankan untuk melakukan jamasan terlebih dahulu di CHC, supaya ilmu ini lebih mudah masuk dan lebih mudah anda pelajari. Acara jamasan akan di pimpin oleh pembimbing ” MUSTIKA IMAN ” untuk memohon Rahmad dan Ridho Alloh swt. 5. Selalu ikutilah pertemuan dengan ikhwan-ikhwan senior ” MUSTIKA IMAN ” guna mendapatkan siraman kemaslahatan ilmu ini. Pengamalan ILMU KESEMPURNAAN DUNIA-AKHIRAT / MUSTIKA IMAN ini harus di dampingi oleh pembimbing, tidak bisa asal – asalan saja. Bagi anda yang berniat untuk ikut mendalami Ilmu ini, silahkan menghubungi ke alamat kami CIPADU HOLISTIC CENTRE { CHC } JL. CILEDUG RAYA Gg H. BOTET Rt 04 /05 PISANGAN, KREO, CILEDUG, TANGERANG. +/- 40 meter di Belakang Pom Bensin Kreo, Gapura Perbatasan Tangerang DKI. Lebih mudahnya masuk dari jl Ciledug raya melalui Gg. H.Botet. Posisi Gg H.Botet berada persis di samping POM bensin kreo batas. Atau gapura Selamat Datang di Kota Tangerang Apabila masuk dari jl Cipadu raya / jl Wahid Hasyim, masuknya melalui jl. Haji Najih di belakang GIANT kreo. Syarat dan ketentuan menjadi peserta : 1. Membeli buku panduan ILMU KESEMPURNAAN DUNIA AKHIRAT ” MUSTIKA IMAN ” Rp. 41.000 ; 2. Melakukan Registrasi pendaftaran di CHC dengan biaya Infaq. 3. Selalu ikutilah pert

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: