Harakah Islam

Oleh: Dzikrullah *)

Air muka yang tadinya ramah tiba-tiba berubah menjadi keras, begitu saya menceritakan ayah saya yang sedang khuruj (keluar) berdakwah dari masjid ke masjid selama 4 bulan. Dumyati, begitu nama pria yang sedang kuliah Syari’ah di sebuah perguruan tinggi di Damaskus, Suriah, langsung memotong saya dengan sebuah cerita.

Menurut cerita ayahnya, di kampungnya, di dekat Palembang, “orang-orang yang suka melakukan khuruj” tadi, sering bikin masalah. Dia gemar menyalah-nyalahkan orang.

Katanya, mereka gemar meninggalkan anak dan istri selama berbulan-bulan hanya untuk khuruj tanpa meninggalkan bekal ma’isyah. Selain itu, ilmunya sedikit, sebab, dari waktu ke waktu, yang dibaca, tak ada lagi, hanyalah satu kitab saja, judulnya Fadha-il-`Amal. Dia, dianggap memecah-belah penduduk kampung.

Kepada Dumyati, saya bertanya dengan perasaan sebagai seorang saudara Muslim. Apakah ia pernah menemui langsung “orang-orang yang diceritakan di kampungnya tadi?”

Kepadanya, saya juga bertanya, apakah pernah menyarankan dan memberitahu “orang orang” tersebut tentang pentingnya membaca kitab-kitab selain Fadha-il-`Amal?

Apakah ia pernah menasihati mereka tentang pentingnya mempersiapkan anak dan istri sebaik mungkin, sebelum ditinggal khuruj?

Dan yang tak kalah penting, pernahkah ia mendoakan “orang-orang” yang dianggapnya meresahkan di kampungnya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menghindarkan mereka dari hal-hal yang justru berakibat buruk bagi masyarakat, dalam kegiatan mereka?

Dumyati hanya menggeleng.

Kepada Dumyati, saya hanya menyampaikan beberapa hal. Saya katakan, setahu saya, menyalah-nyalahkan orang lain bukan karakter mereka. Saya tidak aktif bersama mereka, tapi sedikit banyak saya faham denyut nadi mereka.

Saat SMP saya pernah berkumpul dengan mereka. Ketika di Australia saya juga bersama sama mereka. Di Inggris pun, saya shalat di masjid yang mereka kelola.

Adik saya pernah sampai ke India, Pakistan, Bangladesh. Tapi tak pernah terdengar mereka suka menyalah-nyalahkan orang lain, di luar mereka. Mereka punya tertibnya sendiri ketika khuruj, di antaranya tidak berbicara masalah politik, atau masalah khilafiyah, dan bisnis.

Jika datang ke suatu masjid, mereka dahulukan silaturrahim dengan ulama dan tokoh masyarakat setempat untuk meminta izin. Mereka tidak mau azan di masjid yang ditempatinya i’tikaf sampai disuruh.

Walaupun rajin berceramah, mereka menolak mati-matian jika diminta khutbah Jumat, selama masih ada orang tempatan yang mampu. Mereka juga memfokuskan pembicaraan hanya tentang iman kepada Allah, malaikat, kitab-Nya, nabi-nabi dan rasul-Nya, hari akhirat, dan taqdir, para shahabat serta amal shalih. Itupun 70% pembicaraan tentang amal shalih mereka konsentrasikan untuk mengajak orang aktif beramar ma’ruf nahi munkar, berda’wah. Sekitar 30% sisanya baru membicarakan bagaimana membangun tradisi sunnah –mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya—dalam semua bidang kehidupan terutama yang sehari-hari.

Jika diajak jidal (debat kusir), biasanya mereka memilih diam dan mendengarkan orang lain berbicara. Setiap baru sampai di suatu tempat, dan beberapa saat sebelum meninggalkan suatu kampung, mereka duduk atau berdiri membentuk lingkaran. Lalu mereka berdoa.

Begini bunyi doanya, “Wahai Allah, janganlah Kau jadikan kebodohan kami sebagai sebab timbulnya hal-hal yang mudharat bagi kampung ini dan penduduknya. Jadikanlah kami sebagai sebab turunnya hidayah-Mu bagi tempat ini. Bukalah hati mereka dalam menerima hidayah-Mu. Lembutkanlah hati mereka menerima risalah Nabi-Mu. Jika tidak Kau turunkan hidayah di tempat ini, kasihan ya Allah, bagaimana nasib anak cucu mereka nantinya…”

Satu dua orang dari mereka akan meneteskan air mata. Mereka bahkan sering tak mengenal satu orang pun di kampung itu, tapi mendoakan orang kampung itu seperti mendoakan orang tuanya sendiri.

Saya katakan lagi kepada Dumyati, mereka dikenal dengan sebutan jama’ah tabligh, sebuah gerakan ijtihad da’wah, berjalan menuju mendekati kesempurnaan, sebagaimana harakah lainnya.

Tentu saja, kekurangannya segudang, sama halnya seperti harakah lain. Ke-syumul-an dan kemuliaan Islam memang terlalu hebat untuk hanya diwakili oleh satu harakah saja. Sama seperti kehebatan Nabi Muhammad, hanya bisa diwakili oleh para sahabat bersama-sama.

Oleh karena itu, harakah-harakah dakwah akan lebih produktif untuk saling memuji,
saling membela, saling menolong, saling tersenyum, dan saling menutupi kekurangan yang lain.

Sayangnya, sejauh ini, lidah kita lebih gampang dan lebih mengasyikkan untuk menilai, mengkritik, dan menjelek-jelekkan kelakuan anggota sebuah harakah dakwah lain, daripada menyayangi mereka sebagai saudara sendiri. Apalagi mendekati mereka, membantunya memperbaiki diri, atau bahkan mendoakan kebaikan atas mereka.

Namun itu bukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Apalagi kepada aktivis dakwah seperti Dumyati, yang makin hari semakin banyak ilmunya dan makin sabar dalam menyayangi saudaranya.*

*) Penulis adalah seorang wartawan da guru madrasah

One Response

  1. saya nangis baca tulisan antum, semoga allah selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: