Bau Tubuh Istriku

Anak saya memiliki serpihan gombal yang derajatnya telah menjadi jimat. Tanpa gombal ini, mustahil dia tertidur. Jika kami sekeluarga harus pergi menginap ke luar kota, semua barang boleh ketinggalan kecuali gombal yang satu ini. Jika barang ini sampai tertinggal, bencana akibatnya.

Anak ini akan menolak tidur semalaman. Ia akan mencari gombal jimatnya itu melebih apa saja. Jika ia sudah mendekat gombalnya, wahai… anak ini akan segera stoned, mabuk, dan tidur dengan lelapnya. Kami hanya bisa heran, bagaimana gombal bulukan yang tak pernah kenal air ini bisa membuat hidupnya demikian tenteram. Continue reading

Adakah Inhiraf Manhaji Pada Fikrah Nahdliyyah?

Oleh Muhammad Fauzan Nurullah al-Julaniy

 Syabab.Com – Di bulan harlah Nahdhatul Ulama ini banyak harapan dari umat kepada para ‘ulama terutama yang tergabung dalam wadah Nahdhatul Ulama. NU sebagai ormas Islam yang lahir sebagai wujud kebangkitan ulama ini  benar-benar dapat membangkitkan umat dan Islam ini. [catatan redaksi]

Muqaddimah

 

Menarik mencermati Sabili No. 11 Th. XV 13 Desember 2007 dengan telaah utama Selisih Jalan NU-HTI Siapa Diuntungkan. Muncul pertanyaan, apakah klaim “selisih jalan” itu didasarkan pada cara pandang (pemikiran) yang berbeda, masalah komunikasi, atau terletak pada persoalan politik. Mambahas persoalan pertama tadi (masalah pemikiran) menjadi penting agar “selisih jalan” antara Nahdhiyin (sebutan untuk aktifis NU) dan Hizbiyin (sebutan untuk anggota HT) tidak terjadi di lapangan. Hampir melengkapi pertanyaan di atas, ada satu pertanyaan yang disampaikan seorang kolega kepada penulis, dan pertanyaan tersebut cukup untuk membuat kening penulis berkerut. Pertanyaan itu lebih kurang; “apakah antum seorang Nahdhiyin?” Dari pertanyaan itulah, penulis tertarik untuk menjawabnya dalam bentuk tulisan agar persoalan dan jawabannya menjadi jelas. Untuk menjawabnya, paling tidak ada satu persoalan yang harus dijawab terlebih dahulu; apakah yang disebut orang Nahdatul Ulama’ (NU) itu adalah dalam konteks genetik atau secara pemikiran (sebagaimana pemikiran yang membangun NU)? Ini menjadi penting untuk dijawab. Secara genetik, penulis adalah adalah keturunan NU, walaupun belum pernah mendeklarasikan sebagai kelompok Nahdhiyin. Ada juga orang yang secara genetik keturunan NU tapi secara metodologis menyimpang dari kerangka berpikir Nahdhiyah. Bahkan, ada yang secara pemikiran sama dengan kerangka berpikir Nahdhiyah, namun pada saat yang sama dimusuhi oleh sebagian kalangan yang mengaku dirinya orang NU. Jadi siapa sebetulnya yang Nahdhiyin dan siapa yang bukan? Jangan-jangan telah terjadi inhiraf manhaji (penyimpangan metodologis) dalam fikrah Nahdhiyah? Penyimpangan metodologis inilah yang dikhawatirkan penulis; semuanya demi menjaga keorisinilan pemikiran Nahdhiyah agar tidak menjadi kendaraan politik pihak tertentu yang hipokrit. Continue reading

Kelompok dibalik Gerakan Menolak Fatwa MUI

Aktivis liberal mulai menggalang penolakan Fatwa MUI. Mereka menuduh, Fatwa MUI lah sebagai sumber “kekerasan agama”. Siapa saja mereka?


Hidayatullah.com—Siang hari Senin (7/1) kemarin, ratusan orang berkumpul di GOR Bulungan. Dari saja mereka berjalan Kejaksaan Agung di Jl. Sultah Hasanuddin No. 1 Kebayoran

Baru. Dengan menggunakan nama , AKKBB mereka melakukan orasi dan menyebarkan statemen kepada masyarakat luas di perempatan lampu merah, dan menggelar aksi dengan menyanyikan Mars Garuda Pancasila dan beberapa lagu lain.

Massa AKKBB juga membentangkan spanduk dan poster-poster yang bertulisan: “Negara Tidak Tunduk pada Fatwa, Negara Tunduk pada Konstitusi”. “Kejaksaan Agung, Jangan Lemah, Bangkitlah, Tegakkan Kosnstitusi.” Continue reading

Saharuddin Daming: Pembubaran Ahmadiyah Bukan Pelanggaran HAM

Anggota Komnas HAM yang juga kandidat doktor di UNHAS Makasar, Saharuddin Daming mengatakan, membubarkan Ahmadiyah bukan melanggar HAM. Apa maksudnya?

Hidayatullah.com–Maraknya perhatian publik terhadap kegiatan ritual Ahmadiyah, Al-Qiyadatul Islamiyah (AI) dan sejenisnya yang divonis sebagai ajaran sesat dan menyesatkan oleh MUI, memicu terjadinya pro-kontra tidak hanya dikalangan cendikiawan dan pengamat, tetapi juga menjangkau para politisi, pejabat dan jajaran ulama sendiri. Namun polemik yang sempat membelah konfigurasi umat Islam di tanah air tersebut akhirnya menapaki titik balik setelah sejumlah petinggi negara turun tangan menenangkan para pihak yang terlibat konflik.

Kebijakan dan tindakan pelarangan aliran sesat oleh aparat penegak hukum tidak sedikit mengundang simpati dan dukungan, meski banyak pula yang menilai bahwa kebijakan dan tindakan pelarangan tersebut bertentangan dengan HAM maupun hukum. Continue reading

Menghidupkan Hidup

Terkadang kita terlalu berpikir sesuatu yang sebenernya ga perlu dipikir.

Semisal,ketika kita yakin bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu tentang Ajal. Sesuatu yang bernyawa pasti mati.Kenapa kita mesti takut mati? Jalani saja hidup ini den berpikir kondisi apa yang kita harapkan ketika ajal tiba,sehingga kita akan lebih produktif untuk selalu bertindak dengan keyakinan yang kita miliki mengenai ajal.

Ada sebuah kisah sahabat Rasulullah yang bernama Khalid bin Walid. Dia sangat rindu menjemput kematiannya dalam kondisi berjihad di jalan Allah. Padahal rasul pun sudah “meramalnya” bahwa ia akan mati di tempat tidur. Tidak menyurutk pendiriannya mendambakan kemuliaan mati syahid. Waktu hidupnya dibhabiskan untuk beribadah di medan jihad.

Berbeda lagi dengan Abdurrahman bin Auf,yang jago dagang.Dia mengabdikan dirinya dengan berdagang secara jujur dan benar,serta menginfakkan hartanya untuk di jalan Allah.abdurahman bin Auf menyambut kematian yang pasti dengan ibadah yang bisa dia lakukan atau kelebihan yang dia miliki.

Nah,sekarang kita punya apa dalam kehidupan ini.Mengapa tidak kita dedikasikan hidup kita untuk terus maelkukan amal ibadah itu?Siapa tahu ketika ajal tiba ketika kitas edang melakukan aktivitas yang telah rutin kita alkukan yaitu ibadah?

Selamat beribadah di setiap hembusan nafas.

Aliran Sesat

Di penghujung Tahun 2007,Indonesia kembali terhenyak dengan munculnya berbagai aliran sesat yang menyalahi akidah ummat Islam.Dan anehnya munculnya bak jamur di musim penghujan,tiba-tiba banyak dengn pengikut yang tidak sedikit juga.Al Qaida sudah diperadilkan dengan tokohnya Musaddeq mantan NII (katanya sih).lalu Ahmadiyah menggeliat lagi dengan membuat resah dikalangan ummat islam di Indonesia sehingga terjadi peristiwa di kuningan dimana massa mengepung tempat tinggal petinggi ahmadiyah dan menyegel masjidnya.

Ahmadiyah,aliran yang sengaja di backup Inggris untuk memecah belah ummat Islam di awal abad 19,menyebar kesluruh negri kaum muslimin,apalgi ketika Khilafah Islamiyah runtuh dan terpecah menjadi 55 negara yang masing-masing mempunyai pemimpin.Kaum muslimin seperti anak ayam yang kehilangan induknya,setiap serangan terhadap islam baik akidah maupun syariatnya tidak bisa ditangkis bahkan generasi mudanya banyak yang kalah sehingga menganut ide-ide penjajah seperti Sekulerisme, pluralisme, HAM dan lain-lain.

Ahmadiyah,sejak kelahirannya sudah divonis sesat karena mengakui pendirinya sebagai nabi.Di Indonesia,aliran-aliran sesat dijadikan komoditi bagi kalangan liberal kapitalisme untuk menjajagan dan kempanye tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan.

MUI sebgai wadah para ulama yang bertugas membimbing dan membina ummat menjadi sasaran serangan kaum liberalis yang sangat resah terhadap perkembangan Ilsam dan persatuan ummat Islam,diminta agar dibubarkan.sungguh aneh,ketika MUI menjalankan fungsnya sebgai penjaga pemikiran dan akidah ummat malah diserang juga,bahkan pemerintah diminta tidak mengikuti fatwanya.sedangkan kaum liberal yang jelas-jelas mengkufuri al qur’an dan assunah malah dibiarkan.

Islam akan bersatu dengan kekuasaan yang akan diraih oleh generasi ummat yang mukhlis untuk menegakkan syariat dan akidahnya.dengan Khilafah Islamiyah.aliran-aliran sesat akan bisa diberantas termasuk kaum liberal.

Islam, Warisan Istimewa yang Diabaikan Barat

Roger Garaudy, intelektual terkemuka asal Perancis, punya “angan-angan” menarik dan futuristik. Menurutnya, andai saja Barat memilih dan menerima Islam sebagai sistem atau pandangan hidup (wordview), maka Barat tidak akan melakukan penjajahan di dunia Islam.

Selain itu, bangsa-bangsa Barat juga tidak akan menggelar perang dan merampas hak-hak kehidupan bangsa lain, terutama umat Islam. Inilah nasib tragis yang dialami Barat hingga kini. Mereka ingin dan terus ingin menjajah bangsa-bangsa Muslim dengan berbagai cara dan pola.

Tiap tahun mereka merekayasa hegemoni bangsa-bangsa Muslim yang dianggap sebagai ancaman kepentingan Barat. Mengenai hal ini, kita bisa melihat bagaimana mereka (Amerika Serikat/AS, Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Jerman, dan Negara-negara sekutu lainya) bersatu pada memecah wilayah-wilayah Islam di Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Sekitar 2001, seorang tokoh pendidikan keturunan Arab pernah bercerita, AS berharap tahun 2002 Indonesia mengalami Balkanisasi.

Bangsa Barat bersikap serakah terhadap masyarakat Islam, menurut Garaudy, karena mereka memilih renaisans (kelahiran kembali) atau- dalam bahasa orientalis aufklarung (pencerahan)- Italia dibanding memilih renaisans Islam.

Padahal, bila ditelisik masa renaisans Islam lebih dulu lahir di Barat. Tepatnya di Spanyol. Sayangnya renaisans di Spanyol diabaikan Barat, dan mereka memilih renaisans Italia. “Masa kelahiran kembali (renaisans) Barat telah terjadi di Spanyol Islam-ketika Bani Ummayah berkuasa- empat abad sebelum renaisans di Italia, ” terang Gaurady (Roger Garaudy, Promesess de l’Islam, 1981. Alih bahasa Prof. Dr. H. M. Rasyidi).

Ketika Islam masuk di Gibaltar (Jabal Thariq), Spanyol, oleh pasukan Islam di bawah komando Ziyad ibn Thariq, banyak masyarakat Barat yang memilih menjadi Muslim. Sementara mereka yang tetap pada agama Kristen dilindungi kendati mereka tidak memeluk Islam. Tidak ada gereja yang dihancurkan, dan rumah-rumah mewah mereka tetap dibiarkan berdiri.

Setelah Islam diterima di kawasan ini, di tempat ini pula muncul ulama, filsuf, hukama, qadli, dan ilmuan-ilmuan masyhur dan penting yang telah menyumbangkan ilmu-ilmu mereka kepada Barat. Di sini kita bisa menyebut Ibn Rusyd (pakar perbandingan fiqh dan filfasat, Al-Qurtubi (mufasir), dan lainnya di berbagai tempat.

Lembaga pendidikan tinggi setingkat universitas (jami’ah) dan jabatan profesional dalam ilmu adalah temuan muslim. Pengangkatan atau wisuda seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus ujian telah menjadi tradisi sejak didirikan universitas tertua di dunia Al-Azhar di Kairo. Tradisi ini mengajarkan bahwa sang murid sudah berhak untuk menjadi muallim (pengajar).

Klasifikasi materi buku-buku di perpustakaan besar memunculkan berbagai karya referensi dan karya bibliografi. Karya ensiklopedi pertama adalah buatan Ikhwan al-Shafa tahun 983 M, tapi Marshal Cavendish-lah 800 tahun kemudian yang dianggap sebagai penemu ensiklopedia hanya karena ia bangsa Barat dan menyusunnya dalam bahasa Inggris.

Ilmu pengetahuan yang maju, peradaban yang tinggi dan perpustakaan besar dengan beribu-ribu buku telah menarik begitu banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia tak terkecuali ilmuan Barat yang sengaja belajar ke pusat-pusat peradaban Islam tersebut. Pada gilirannya para ilmuan Barat yang pulang kembali ke negerinya menjadi sebab munculnya renaisans di Barat.

Methode ilmiah adalah sumbangan peradaban Islam terbesar pada pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam laporan laboratorium Al-Battani (w. 929M), Al-Biruni (w. 1048M) dan Ibnu Haitsam (w. 1039M), kita bisa jumpai penjelasan dan penggunaan methode tersebut. Tapi yang dianggap penemu methode ilmiah adalah Roger Bacon karena ia mensekulerkan ilmu pengetahuan dengan methode ilmiah tersebut.

Di bidang matematika, Al-Khwarizmi (w. 850) menemukan algoritma (diambil dari namanya) dan aljabar (dari judul bukunya berjudul Al-Jabr wa al-Muqobbala), 300 tahun kemudian dunia Barat mengenal angka nol dan mengadopsi angka Arab dan meninggalkan sistem angka romawi yang rumit dan tak bertele-tele. Sunguhpun kini aljabar dan algoritma wajib diajarkan, tak ada sejarah yang diajarkan di kelas sekedar menuliskan nama Al-Khwarizmi sebagai penghormatan.

Hal serupa terjadi pada bidang kesusastraan. Misalnya, novel Alf Laila wa Lailah (kisah Seribu Satu Malam) sebenarnya bukan mahakarya sastra, meskipun diakui sebagai karya seni dengan kreatifitas isinya yang tinggi, tetapi salah satu tokohnya Abu Nawas (w. 810) lebih terkenal karena anekdot dan kelucuannya dari pada filsafat dan kearifannya.

Demikian pula Ibnu Thufail (w. 1185).Ia adalah pengarang novel-novel filsafat yang paling dini. Karyanya risalah Hayy Ibnu Yaqzan (Kehidupan Ibnu Yaqzan) banyak dijiplak dan cerita Robinson Crusoe karya Dafoe adalah adalah tiruan rasis darinya. Tentu saja Dafoe yang lebih terkenal di dunia sastra Barat.

Model orbit planet Copernicus yang kemudian dirumuskan dengan baik oleh Kepler dalam Hukum Kepler I, II dan III sebenarnya telah dihasilkan dari laboratorium di Maraga oleh ilmuan seperti Al-Tusi (w. 1274 M) yang kemudian diteruskan oleh Ibnu Al-Syatir (w. 1375 M) di Damaskus.

Ibnu Al-Haytsam (w. 1039 M) mempelopori penelitian tentang optika. Eksperimennya menggunakan lebih dari 27 jenis lensa. Roger Bacon, Leonardo da Vinci dan Kepler bahkan mungkin Newton telah mengambil inspirasi bahkan menjiplak dari bukunya Kitab Al-Manazhir (Kamus Optik). Sebab teori tentang mata yang bukan sumber cahaya (mirip kesimpulan Newton yang menggugurkan pendapat Euclid dan Ptolomy), hukum refleksi dan refraksi (yang lebih terkenal dengan hukum Snellius) serta pertambahan ukuran bintang dekat zenith sesungguhnya telah dirumuskan dengan baik oleh Ibnu Al- Haytsam lewat berbagai eksperimennya.

Belum lagi ilmu kedokteran. Dunia mestinya berterimakasih pada Ibnu Sina. Mereka, bangsa Barat menyebutnya dengan Ave Sena) yang telah menulis Kitab Qanun fi Al-Tibb yang berisi berbagai jenis penyakit dan pegobatannya secara komprehensif. Buku tersebut menjadi acuan selama beberapa abad kemudian dan diajarkan kepada seluruh calon-calon dokter pada saat itu.

Sampai akhir abad ke-19 tingginya ilmu pengetahuan kedokteran sumbangsih para dokter muslim terlihat saat para calon dokter di Prancis harus mendapatkan surat izin praktek dari Kepala Dokter Muslim di Tunisia. Tapi kemudian pemerintah kolonial Prancis melarang keras tindakan tersebut. Eropa berusaha menghapuskannya dengan alasan mengangapnya rendah hanya karena dokter mereka harus merunduk ke Tunisia yang Islam.

Mereka Tidak Jujur Sayang seribu sayang kejayaan dan kebaikan kaum muslimin itu dicuri dan diaku-aku sebagai hasil karya Barat. Parahnya lagi, hasil karya mulia para ilmuan Muslim itu secara dihancurkan oleh para penguasa yang tidak peduli perjuangan dan pengorbanan umat Islam. Mereka lebih senang korupsi dan berkongsi penjajah Barat, yang sejak semua benci dengan Islam.

Walaupun demikian, Barat betul-betul banyak berhutang kepada Islam. Sayang mereka tak jujur atas sumbangan besar kaum muslimin itu. “Semenjak 13 abad, Barat telah menolak warisan ketiga ini, yaitu warisan Islam yang pada masa lalu mestinya dapat dan terang akan dapat mempertemukan kebudayaan Barat dengan kebudayaan-kebidayaan lainnya di seluruh dunia, ” ujar Garaudy, pemeluk Katholik yang menjadi atheis dan berakhir menjadi Muslim.

Ia menegaskan, jika saja Barat bersikap fair dan merendah, maka mereka akan menjadi bangsa yang bermartabat. ”Selain itu, warisan ketiga itu juga akan membantunya untuk merasakan dimensi-dimensi kemanusian dan ketuhanan yang telah terpisahkan selama kebudayaan Barat berkuasa secara sepihak, mengembangkan kemauannya untuk menguasai alam dan manusia. ”

Bila saja Barat mau menerima Islam, maka Barat tidak akan bernasib seperti sekarang ini:sekular, liberal, dan ambigu, dan rasial. (dina)